Aksi Solidaritas Bela Muslim Uighur di depan Kedutaan Besar China. [istimewa]
Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia

JAKARTA, Redaksikota.com – Sungguh memalukan sikap dari massa aksi 2112 di depan Kedutaan Besar Cina di kawasan Kuningan Jakarta Selatan Jumat (21/12), dimana mereka melakukan tindakan intimidatif terhadap wartawan yang meliput kegiatan dan orasi mereka di atas mobil komando. Wartawan tersebut adalah pewarta dari AKURAT.CO dan Kricom.id.

Menurut keterangan yang dihimpun oleh Redaksikota.com, bahwa kejadian tersebut bermula saat kedua pewarta ini merekam dan mengambil foto perwakilan mahasiswa yang berorasi di atas mobil komando. Dan kebetulan konten orasi tersebut cenderung lebih bermiatan politik. Dimana dalam orasi tersebut, sang orator menyinggung kasus penangkapan Habib Bahar bin Simith karena menghina lambang negara Presiden Joko Widodo.

Tak hanya itu orator juga tak sungkan meneriakan 2019 ganti presiden sebagai salah satu slogan politik kelompok oposisi dalam kontestasi politik Pilpres 2019.

Usai merekam dan mengambil foto tersebut, tiba-tiba sekelompok pemuda bebadan tegap langsung mencegagat kedua wartawan tersebut. Mereka meminta agar dokumen foto dihapus. Namun permintaan itu ditolak oleh dua orang pewarta tersebut.

Merasa keinginannya tidak dipenuhi, kelompok massa itu terus menghalangi kedua pewarta ini agar tak bisa keluar dari kerumunan Massa. Di bawah tekanan, kedua pewarta itu diminta untuk menunjukan ID Pers dan KTP. Bahkan ada yang memvideokan kejadian itu.

“Kamu wartawan kan, mana saya lihat ID Cardnya!” tanya salah satu pemuda dengan nada tinggi.

Para pemuda ini lalu memotret ID card dan KTP kedua pewarta ini.

“Dasar media Cebong!” kata salah satu pemuda usai memeriksa kedua wartawan tersebut.

Meski sudah memeriksa dokumen wartawan bersangkutan, kelompok pemuda tersebut terus membuntuti kedua wartawan ini hingga ke pos polisi yang tak jauh dari lokasi demo. Sekelompok massa aksi tersebut pergi setelah wartawan lain yang berada di lokasi tersebut melerainya.