Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia

Jakarta, Redaksikota-Proses penerimaan mahasiswa baru di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 2018 menuai kritik dari berbagai kalangan mahasiswa.

Wakil Ketua DEMA UIN Jakarta, Adi Raharjo, menjelaskan kritik ini hadir karena pada salah satu proses pendaftaran ulang, yakni tahapan cek kesehatan bagi mahasiswa baru tahun ini dikenakan biaya sebesar 120.000 rupiah. Meski cek kesehatan ini tidak diwajibkan di rumah sakit UIN, namun tetap saja hal ini menimbulkan polemik. Pasalnya, pada angkatan-angkatan sebelumnya cek kesehatan tidak pernah dipungut biaya.

“Terkait biaya cek kesehatan bagi mahasiswa baru, banyak sekali yang protes, sebelumnya gratis, atau paling tidak sudah include dengan biaya kuliah yang dibayarkan. Hari ini, adik-adik mahasiswa baru sudah diharuskan membayar Uang Kuliah Tunggal (UKT), namun masih saja ada pengeluaran-pengeluaran lainnya,”ujarnya.

Menurut Adi, jika merujuk pada Surat Keputusan Menteri Agama RI Nomor 211 Tahun 2018 tentang Uang Kuliah Tunggal (UKT) poin keenam bahwa tidak diperbolehkan melakukan pungutan biaya apapun selain UKT.

“Cek kesehatan ini diwajibkan oleh kampus, sehingga wajar jika banyak mahasiswa yang mempertanyakan. Bagi mahasiswa baru UIN Jakarta lainnya harus kritis dan mempertanyakan biaya-biaya yang diluar UKT. Kami akan terus mengawal,” tegas Adi.

Selain itu dia juga mengajak segenap aktivis mahasiswa UIN Jakarta untuk terlibat aktif dan bersinergi dalam mengawal setiap kebijakan yang dikeluarkan oleh kampus.

“Tentu kami dari DEMA Universitas tidak bisa bekerja sendiri, kami mengajak seluruh mahasiswa untuk ikut sama-sama berjuang, kawan-kawan dari DEMA Fakultas, Himpunan Jurusan, organ ekstra serta UKM,” ujarnya.

Dalam kesempatan lainnya, Wakil Ketua Bidang Hubungan Antar Lembaga DEMA UIN Jakarta, Sultan Rivandi, mengatakan terkait beberapa kebijakan kampus pihaknya banyak menemukan hal-hal yang menimbulkan polemik dikalangan mahasiswa.

“Soal UKT misalnya, silahkan kawan-kawan cek ditiap-tiap jurusan, ada berapa jumlah mahasiswa yang bisa menerima UKT golongan 1? sangat sedikit sekali, bahkan ada jurusan yang tidak ada penerima golongan 1. Betulkah tidak ada peminat UIN Jakarta dari kalangan kurang mampu? Atau justru UIN Jakarta yang sudah tidak memberi ruang lagi bagi orang-orang miskin berkuliah disini? Selanjutnya ada biaya-biaya lain diluar UKT, cek kesehatan dan lainnya. Kampus jangan abai dengan persoalan-persoalan ini,” selorohnya.

Ditambahkan oleh Sultan, masifnya kritik dari mahasiswa menandakan sistem yang diterapkan di kampus belum berjalan sebagaimana mestinya. Dan sikap kritis ini sebagai bentuk kecintaan terhadap universitas.

“Kami tidak anti rektorat, tidak benci kampus, kami hanya mempertanyakan kebijakan-kebijakan yang menurut kami janggal. Memang tidak berdampak langsung pada kami, tapi bagaimanapun adik-adik mahasiswa baru juga berhak mendapatkan informasi dan kebijakan kampus yang adil,”paparnya.

Berkaitan dengan upaya yang akan dilakukan selanjutnya, Sultan mengaku pihaknya siap menempuh segala cara agar aspirasi mahasiswa bisa diterima.

“Tentu kami akan melakukan audiensi, jika tetap tidak ditanggapi terpaksa parlemen jalanan dan mimbar bebas akan kembali digaungkan,” tutup mahasiswa ilmu politik ini. (HS)