Beranda News Nasional Habaib dan Dai Nusantara Kompak Jaga Persatuan Bangsa Indonesia

Habaib dan Dai Nusantara Kompak Jaga Persatuan Bangsa Indonesia

99 views
Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia

Redaksikota.com – Elemen Habaib dan Dai Nusantara (HADANA) menyerukan kepada seluruh umat Islam dan rakyat Indonesia pada umumnya untuk menjaga lisan dan tulisan yang bersifat provokatif dan menimbulkan kerusuhan demi menjaga persatuan dan kesatuan Indonesia.

Seperti yang disampaikan oleh Ketua Hadana, Habib Muhammad Shahir Alaydrus, bahwa apa yang dilakukan oleh pihaknya merupakan tanggungjawab ulama dengan pemerintah atau umaro untuk menjaga persatuan dan kesatuan umat dan bangsa Indonesia. Apalagi kondisi saat ini tensi sosial politik di dalam negeri tengah memanas pasca pencoblosan Pileg dan Pilpres 2019.

“Memang ini adalah peran Ulama, untuk supaya bisa lebih bersinergi antara pemerintah juga dengan para ulama, Untuk tetap menjaga sistem kemerdekaan kita, keutuhan negara dan juga persatuan anak bangsa, ini sangat penting,” kata Habib Muhammad Shahir Alaydrus dalam konferensi persnya yang digelar di Gedung Joeang 1945, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (30/5/2019).

Ulama yang karib disapa Habib Syahdu itu menegaskan bahwa saat ini ada kelompok tertentu yang tampak menggebu-gebu ingin mendapatkan kekuasaan. Namun sayangnya sentimen bernuansa menyinggung Suku, Agama, Ras dan antar golongan (SAR) malah yang dipakai yang justru membuat masyarakat Indonesia sendiri terpolarisasi.

“Dibalik semua ini ada kelompok-kelompok tertentu, yang berambisi, sebagian orang, cuman sayangnya sentimen SARA yang ditanamkan, itu sama seperti fitnah, itu udah banyak,” ujarnya.

Oleh karena itu, Habib Syahdu menilai bahwa Pemerintah dan ulama harus bersatu agar bagaimana bangsa Indonesia yang telah terpolarisasi karena sentimen SARA akibat kelompok yang terlalu ingin berkuasa dan menghalalkan berbagai cara itu dapat dibendung dengan baik.

“Benar ini menjadi tugasnya kita bersama-sama, pemerintahnya, ulamanya, rakyatnya juga termasuk kita perlu bersama-sama untuk membuka. Sudah bukan masalah stabilitas negara saja, tapi masalah keamanan kehidupan kita kemerdekaan kita,” tegasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Kiyai dari Pondok Pesantren Buntet Cirebon, Jawa Barat, Kiyai Zidni NZ menyebutkan bahwa usai pencoblosan yang dilakukan pada tanggal 17 April 2019, sudah seharusnya rakyat Indonesia kembali merajut kebersamaan dan persatuan. Tidak ada lagi istilahnya 01 maupun 02, melainkan kembali pada 03 yakni Persatuan dan Kesatuan.

“Saat ini sudah tidak ada lagi 01 atau 02 .
Pemerintah harus merangkul para ulama, umat itu tergantung dengan ulamanya,” ujar Kiyai Zidni.

Saat ini kondisi bangsa Indonesia masih terkotak-kotak sesuai kepentingan para elite politik. Bahkan masih juga terdengar narasi-narasi yang menyeret istilah agama baik seruan jihad hingga dalil-dalil ayat. Maka dari itu untuk menjaga stabilitas persatuan dan kesatuan bangsa, seharusnya narasi semacam itu dihentikan saja.

“Adanya konflik horizontal di masyarakat, antara pendukung yang selama ini sudah berkontestasi selama 7 bulan terakhir ini.
Dan juga kita tidak boleh menggunakan kekerasan, ayat-ayat perang atau ayat-ayat yang bisa memecah belah bangsa ini,” tuturnya.

Ia pun menyayangkan adanya ulama dan tokoh agama yang justru menyerukan ujaran kebencian di kalangan masyarakat.

“Maka ketika ada ulama yang kemudian memberikan cacian, makian atau hasutan, provokasi kepada masyarakat, itu yang tidak boleh diikuti. Yang kita ikuti adalah bagaimana ketika ulama itu memerintahkan persatuan, kasih sayang, kemudian menghormati, pemimpin,” tegasnya.

[]