Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia

Redaksikota – Eks aktivis Himpunan Mahasiswa Indonesia (HMI), Masyur harahap mengajak Mahasiswa kembali kritis dan aktif, hanya saja semua itu harus dilandasi dengan ilmu pengetahuan dan gagasan yang kuat.

Jika tidak dilandasi dengan ilmu pengetahuan tersebut, ia menilai maka jelas gerakan Mahasiswa akan mudah menjadi tunggangan kepentingan orang atau kelompok tertentu.

“Gerakan mahasiswa begitu ideal, harus berangkat dari diskursus ilmiah. Jika gerakan itu ditunggangi maka gerakan itu mudah dibantah dan dimentahkan. Jika semua gerakan mahasiswa diawali dengan diskursus maka tidak akan mudah dimentahkan,” kata Masyur dalam diskusi publik bertema “Gerakan Mahasiswa atau Gertakan Mahasiswa. Kritis Boleh Tapi Harus Cerdas” yang diselenggarakan oleh Forum Mahasiswa Indonesia, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (30/3/2017).

Ia menilai jika gerakan Mahasiswa tidak harus melulu berada di parlemen jalanan. Cara lain yang merupakan gerakan yang bisa digunakan oleh Mahasiswa saat ini adalah dengan cara menulis, baik itu berbentuk gagasan, pemikiran, maupun ide-ide di media massa.

“Menulis juga gerakan mahasiswa. Ketika kepekaan, rasa dan sensitifitas gerakan Mahasiswa sudah mati, maka hancurlah peradaban,” pungkasnya.

Untuk itu, Masyur juga menekankan agar Mahasiswa Indonesia saat ini lebih banyak membaca dan belajar. Banyak pokok materi pemikiran yang mentah akibat kurangnya literasi yang dilakukan Mahasiswa saat ini.

“Tingkat minat baca bangsa Indonesia itu masih rendah. Bagaimana kita Mahasiswa bisa mencetuskan gagasan dan pemikiran yang kuat dan hebat, ketika kita tidak pernah mau membaca,” tukasnya.

Untuk memupuk itu, ia pun mengajak Mahasisww untuk kembali memupuk landasan dan dasar gerakan itu dari kampus-kampus lagi. Ternyata banyak persoalan yang sebenarnya harus disikapi dan dikritisi dari internal kampus sendiri, tidak melulu di jalanan dengan pembahasan yang lebih universal.

“Gerakan mahasiswa ayo kembali ke kampus. Artinya apa, ada banyak yang perlu kita kritisi di kampus bukan soal SPP saja, bukan soal SKS saja, tapi ada kurikulum yang perlu kita kritisi,” tandasnya.

Hal senada juga disampaikan oleh pengamat politik Boni Hargens. Ia menilai Mahasiswa saat ini juga harus memiliki pengetahuan dan daya kritis yany kuat. Sehingga apa yang dituangkan bisa menjadi gagasan yang kuat.

“Gerakan Mahasiswa harus memiliki landasan gagasan yang jelas. Kalau kita tempatkan gerakan mahasiswa di situ, maka kita akan kuat,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Boni juga sempat bercerita tentang masa lalunya saat menjadi Mahasiswa. Ia mengaku jika saat masih aktif sebagai aktivis kampus, memang ia adalah salah satu orang yang suka sekali melakukan aksi unjuk rasa atau parlemen jalanan. Hanya saja untuk menguatkan gerakannya yang lain, ia juga aktif menulis di media massa.

“Dahulu, kami suka demo tapi kami juga sudah suka menulis di Kompas, di Tempo,” kisahnya. [mib]