Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia

JAKARTA – Elektabilitas pasangan Capres-Cawapres Jokowi dan Ma’aruf Amin kian melemah. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor termasuk ekonomi. Hal ini diketahui dari hasil survei yang dilakukan oleh IDM pada tanggal 8 – 21 Oktober 2018, dengan responden 2.178 yang tersebar di 33 Provinsi dengan Margin of Error sebesar -+ 2,1% dengan tingkat kepercayaan 95%.

Dalam temuan survei IDM ini, 38.9% responden mengatakan kondisi ekonomi saat ini mengalami penurunan. Dan hanya 12.7% saja responden yang mengatakan mengalami peningkatan ekonomi.

Hal tersebut diungkapkan Direktur Eksekutif IDM, Bin Firman Tresnadi kepada wartawan, Senin (30/10/2018) di Jakarta.

“Dari survei di atas yang mengatakan kondisi ekonomi stabil hanya sekitar 48,4%. Hal ini sejalan dengan pertumbuhan ekonomi nasional selama 4 tahun pemerintahan Jokowi yang berkisar antara 4,8% – 5% saja,” ujarnya.

Kondisi pertumbuhan ekonomi ini kata dia, tentu saja berimbas kepada lapangan kerja di masyarakat. “Dalam temuan survei, 64,6% responden menyatakan selama 4 tahun terakhir sangat sulit mencari pekerjaan. 31,2% mengatakan ada lapangan kerja tapi banyak yang tidak sesuai dengan tingkat pendidikan ataupun keahlian yang dimiliki masyarakat. Dan sebanyak 4,2% menyatakan tersedia lapangan kerja,” tegasnya.

Lanjutnya, pertumbuhan ekonomi yang hanya berkisar di 4,8% – 5% juga tidak memberikan tambahan lapangan kerja baru bagi angkatan pekerja baru. “Karena tidak tertampungnya angkatan kerja baru ini maka pekerjaan di sektor informal menjadi pilihan, seperti driver atau ojek online dan lainya. Hal yang penting diketahui adalah hampir 40% tenaga kerja Indonesia saat ini bekerja disektor informal. Dimana jaminan keamanan rendah dan jaminan sosial yang tidak memadai,” tandasnya.

Elektabilitas Jokowi menurun juga karena tidak bisa memenuhi janji-janjinya, seperti soal Swasembada Pangan.

“Sebanyak 71,8% responden mengatakan gagal. Begitu juga dalam hal pemerintahan bersih (bebas korupsi), sebanyak 62,1% responden menyatakan Jokowi tidak berhasil memberantas korupsi. Sikap responden ini didorong karena responden menilai masih banyaknya pejabat publik yang terjerat oleh KPK,” tukasnya.

Sementara itu, berdasrkan survei tersebut, justeru elektabilitas Prabowo yang mengalami trend kenaikan yang cukup signifikan.

Hal ini menurut para responden, disebabkan faktor Sandiaga Uno yang memiliki daya tarik terhadap pemilih milineal dan dianggap lebih mengakomodir berbagai berbagai golongan, baik suku maupun agama.

Berikut Ini Elektabilitas Pasangan Capres-Cawapres Berdasarkan Demografi Responden:

41,2% Responden Milineal (usia 17 – 25 tahun) = (897 responden): Jokowi-Ma’aruf : 31,7% (284 responden), Prabowo-Sandi : 60,1% (539 responden), Tidak Memilih : 8,2% (74 responden).

21,4% Responden Ibu Rumah Tangga (466 responden), Jokowi-Ma’aruf : 33,3% (155 responden), Prabowo-Sandi : 58,1% (271 responden), Tidak Memilih : 8,6% (40 responden).

37,4% Responden Kepala Keluarga (815 responden), Jokowi-Ma’aruf : 41,2 % (336 responden), Prabowo-Sandi : 51,1% (416 responden), Tidak Memilih : 7,7% (63 responden).

Total Elektabilitas:

Jokowi-Ma’aruf : 35,58 %

Prabowo-Sandi : 56,39 %

Tidak Memilih : 8,13 %.

Harapan responden tentunya kata dia, jika Prabowo-Sandi terpilih akan memberikan dampak peningkatan pendapatan ekonomi masyarakat, sehingga kehidupan ekonomi mereka membaik dibandingkan keadaan saat ini.

“Tingginya pilihan pada  pemilih milenial terhadap Prabowo-Sandi hingga 60,1% dibandingkan Jokowi-Ma’aruf yang hanya 31,7%, dikarenakan sosok Sandi yang lebih mewakili pemilih milenial yang  creative (kreatif), confidence (percaya diri) dan connected (terhubung satu sama lain) dibandingkan Jokowi maupun Ma’aruf Amin. Hal ini tak terlepas dari kesukaan Sandi terhadap olah raga, music/film dan teknologi informasi yang merupakan ciri khas generasi milineal,” pungkasnya.