Foto : Karyono Wibowo (kiri), Arif Susanto (tengah), Budianto Tarigan (kanan).
Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia

JAKARTA, Redaksikota.com – Peneliti Exposit Strategic Politica Arif Susanto menilai bahwa narasi yang dibangun oleh Calon Presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto tentang Indonesia akan punah hanya merupakan efek dari kecemasan akan adanya kekalahan yang terlalu berlebihan.

Politik kecemasan yang diumbar oleh Prabowo tersebut merupakan kecemasan pribadi maupun kelompok. Hanya saja Arif mengatakan bahwa rasa cemas tersebut coba ditransferkan kepada masyarakat sehingga kecemasan tersebut bersifat kolektif dan seperti pembenaran secara sepihak.

“Sebagai orang yang cemas bahwa kondisi saya mendatang akan lebih buruk dibanding teman-teman saya. Kecemasan itu saya pindahkan ke audiens sehingga kecemasan pesonal diubah menjadi kecemasan kolektif,” kata Arif dalam diskusi bertemakan “Refleksi Akhir Tahun : Indonesia Maju atau Punah?” di Kopi Politik, Jl Pakubuwono VI No26 AF, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis (27/12/2018).

Sayangnya menurut Arif, politik kecemasan yang dibangun oleh pihak Prabowo Subianto tersebut, justru sangat rentan terjadinya politik kebencian, salah satunya adalah yang berbasis identitas.

“Politik kecemasan sangat dekat dengan politik kebencian. Politik kebencian berbasis identitas terjadi di Jakarta 2017,” tutur Arif.

“Peluang menang dirasa sangat tipis, makanya mereka cemas, alih-alih berusaha keras makanya dia ciptakan kecemasan pada masyarakat bahwa sumber kecemasan ada di orang lain. Makanya saya bisa ajak orang-orang untuk membenci siapapun yang tidak ada di dlm kelompok kita,” terangnya.

Padahal menurut Arif, persoalan kontestasi politik bukan persoalan siapa yang menang maka dia dan kelompoknya yang memenangkan pertarungan, melainkan sejatinya kemenangan itu pun seharusnya milik seluruh rakyat Indonesia karena yang terpilih adalah murni keinginan mayoritas masyarakat yang memiliki hak suara.

“Jauh di atas kepentingan menang kalah adalah yang menang harusnya Indonesia. Siapapun yang kalah antara si A atau si B itu normal, tapi kekalahan tidak boleh dicermatkan ke Indonesia. Makanya jangan sampai ada klaim kalau saya kalah maka Indonesia akan runtuh,” tegasnya.

Tidak ada alasan Indonesia pesimis dan punah

Lebih lanjut, Arif menegaskan bahwa Indonesia adalah negara kesepakatan yang dibangun atas dasar optimisme yang tinggi. Bahkan ia meyakini saat para pendiri bangsa seperti Bung Karno dan Bung Hatta, imajinasi mereka memerjuangkan kemerdekaan Indonesia tentu didasari atas imajinasi yang positif bahwa Indonesia akan menjadi negara maju di kemudian hari.

“Kalau Bung Karno, Bung Hatta adalah bagian dari generasi pelopor memiliki imajinasi Indonesia maju, saya pikir kita sekarang tidak punya alasan untuk pesimis,” tutupnya. [ibn]