Karyono Wibowo
Pengamat politik The Indonesian Public Institute (IPI), Karyono Wibowo. [foto : fiqi septiansyah/redaksikota]
Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia

Redaksikota – Pilgub DKI Jakarta adalah sebuah pesta demokrasi yang memiliki tensi cukup tinggi. Sebagai barometer nasional, pemilihan kepada daerah di Jakarta pun bisa dibilang hampir mirip dengan pertarungan politik memperebutkan kursi di Istana.

Hal ini pun diamini oleh pengamat politik senior, Karyono Wibowo. Pengamat dari The Indonesian Public Institute (IPI) tersebut menilai Pilgub DKI Jakarta saat ini seperti Pilpres.

“Pilgub DKI sekarang ini serasa Pilpres,” kata Karyono kepada Redaksikota melalui sambungan telepon, Rabu (28/9/2016).

Pertarungan politik dedengkot antara PDI Perjuangan dengan Megawatinya, Gerindra dengan Prabowonya, dan Demokrat dengan SBY-nya. Masing-masing memiliki sosok yang ditonjolkan untuk memperebutkan kursi DKI Jakarta.

Namun yang menjadi unik saat ini adalah sosok Agus Harimurti Yudhoyono. Sosok Mayor TNI yang memiliki prestasi cukup baik di bidangnya tiba-tiba diusung untuk melenggang ke ranah politik praktis dan langsung menuju karpet merah DKI1.

Ditambahkan lagi, Agus yang notabane seorang perwira TNI tersebut harus rela menggantungkan sepatu demi merebutkan kursi DKI1 melalui dukungan 4 partai besar, yakni Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Partai Amanat Nasional (PAN), dan Partai Demokrat yang tidak lain ketua umumnya adalah ayahnya, Susilo Bambang Yudhoyono.

Keputusan Agus untuk melepas atribut keperwiraannya pun akan menjadi pertanyaan besar, apalagi keputusan Agus tidak akan bisa mengembalikan dirinya melanjutkan karir di TNI jika nantinya kalah dalam kontestasi politik Pilgub DKI 2017.

Karyono Wibowo pun menilai apa yang menjadi keputusan Agus, keputusan SBY dengan keluarga Cikeas pun pasti sudah melalui perhitungan yang sangat matang. Tidak mungkin sekelas SBY merelakan karir cemerlang anaknya demi menuai kekalahan telak dalam dunia politik seperti ini.

“Kenapa Agus harus mundur sekarang dari satuan TNI, pertimbangannya barang kali tidak menunggu Agus berpangkat Jenderal, memiliki prestasi militer yg baik. Bahwa wacana yang berkembang jika SBY sedang mempersiapkan Agus menjadi Presiden,” kata Karyono.

Cukup masuk akal disampaikan Karyono jika pengorbanan besar ini dilakukan sekarang dan tidak menunggu Agus harus memiliki pangkat bintang di pundaknya. Investasi politik saat ini dikatakan Karyono agar nama Agus sebagai salah satu sosok yang diwariskan nasibnya oleh SBY bisa familiar dulu, khususnya di telinga para calon pemilihnya.

“Mau nunggu berapa tahun lagi Agus jadi Jenderal, kan Agus sekarang masih jadi Mayor. Setidaknya sekarang nama Agus lebih dikenal di masyarakat. Tapi kalau seandainya gagal maju, dia sudah punya investasi yakni dikenal publik,” tandasnya.

Tujuan Utama Agus Maju Pilgub
Ada dua pandangan tentang sikap Agus berani maju dalam Pilgub DKI Jakarta. Yang pertama adalah putra sulung SBY tersebut tengah dipersiapkan untuk maju dalam kontestasi politik Pilpres 2019, dan yang kedua hanya untuk test-case popularitas Agus di mata masyarakat.

“Saya menduga ada beberapa sasaran yang dituju, kenapa Cikeas mengusung Agus. Bisa jadi sasaran kemenangan bukan tujuan utama dalam Pilgub DKI ini,” ujar Karyono.

“Pilgub DKI dijadikan sebagai sasaran antara yakni mendongkrak Agus terkenal dulu. Kalaupun Agus kalah dan gagal atau tidak mendapatkan sasaran utama atau menang, dia tetap untung, nama Agus Harimurti makin terpopuler makin dikenal oleh masyarakat Nasional bukan di DKI saja,” ujarnya lagi.

Nasib Agus Jika Kalah
Ini yang menjadi pertanyaan besar bagaimana nasib Agus Harimurti Yudhoyono jika dalam Pilgub DKI 2017 dirinya jeblok suaranya dari pasangan lain. Terlebih lagi dengan memilih maju sebagai calon Gubernur, artinya karir militer Agus sudah tutup buku.

Terkait persoalan ini, Karyono memiliki pandangan bahwa karir Agus jika kalah dalam Pilgub DKI bukan berada di partai politik termasuk di Partai Demokrat. Ia menilai jika kalah di Pilgub dan Agus ditempatkan sebagai pengurus Partai Demokrat, justru SBY akan blunder.

“Justru Agus tidak akan ditempatkan di Partai. Kalau memang SBY taruh Agus di partai justru akan jadi blunder tersendiri. Publik akan menilai jika Demokrat adalah partai keluarga,” nilai Karyono.

Yang paling mungkin adalah Agus diletakkan di tempat lain yang memang akan dipoles untuk dipersiapkan maju di Pilpres. Jika tidak di Pilpres 2019, tentu akan di Pilpres selanjutnya. Karyono mengatakan untuk maju sebagai calon Presiden, seseorang tidak perlu untuk menjadi Ketua Partai politik.

Betapapun itu, paras yang tampan dan penampilan yang berwibawa menjadi bagian modal yang bisa dibawa Agus Harimurti untuk mendulang simpati dan popularitas di kalangan masyarakat.

Karyono pun berkelekar, jika Agus diminta untuk bersosialisasi di Pasar, tampang Good Looking yang dimiliki Agus bisa menghipnotis pemilih dari kalangan wanita maupun ibu-ibu. [mib]