Beranda News Nasional Sekjend PGK: Aksi Bela Tauhid Kepentingan Siapa?

Sekjend PGK: Aksi Bela Tauhid Kepentingan Siapa?

771 views
Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia

Jakarta, Redaksikota- Aksi Banser Garut yang membakar bendera bertuliskan kalimat tauhid yang diduga miliki HTI memantik seruan untuk melakukan Aksi Bela Tauhid di sejumlah daerah.

Menyikapi seruan Aksi Bela Tauhid ini, Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Pusat Perkumpulan Gerakan Kebangsaan (DPP PGK), Riyan Hidayat meminta agar masyarakat dan ormas-ormas lainnya menahan diri untuk tidak terlibat.

Disampaikan olehnya, dikhawatirkan aksi tersebut ditunggangi oleh kelompok tertentu yang ingin memecah belah persatuan umat khususnya ormas HTI yang keberadaannya sudah dilarang oleh pemerintah.

“Kami mengajak agar masyarakat dapat menahan diri dan mempercayakan penyelesaian kasus ini kepada pihak penegak hukum. Karena, gerakan yang mengundang gelombang aksi massa ini sangat rentan ditunggangi oleh kepentingan politik tertentu dan kelompok yang ingin memecah belah kita, dan kalimat tauhid itu terlalu suci jika digunakan oleh kelompok HTI dalam menjalankan hasrat politiknya,” papar Riyan saat dihubungi oleh Redaksikota, Kamis, (25/10/2015).

Riyan tak menampik bahwa tidak boleh ada pihak yang melakukan penistaan terhadap simbol-simbol agama. Namun, Ia berpandangan jika ada dugaan terhadap adanya penistaan simbol agama, baiknya penyelesain kasus tersebut diserahkan kepada pihak penegak hukum sehingga wacana Aksi Bela Tauhid itu tidak perlu dilakukan.

“Saya kira begini, kita semua sepakat bahwa tidak dibenarkan untuk melakukan penistaan terhadap agama apapun atau simbol-simbol agama manapun. Namun kita juga harus jernih melihat persoalan, betulkah ada penistaan simbol agama disitu. Yang jelas dalam kasus pembakaran bendera kemarin itu kan sudah diproses oleh pihak kepolisian, sebaiknya kita percayakan dulu penyelesaiannya oleh penegak hukum,” ujarnya.

Ditambahkan olehnya, gelombang aksi massa ini bisa berdampak buruk bagi stabilitas keamanan negara. Selain itu juga sangat berpotensi mengganggu aktifitas masyarakat yang lainnya. Sehingga ia menyarankan agar protes yang dilakukan cukup dengan cara-cara yang lebih efektif.

“Dalam dunia gerakan, demonstrasi itu adalah upaya terakhir apabila aspirasi tidak di dengar, proses hukum tidak berjalan. Ada banyak cara menyampaikan protes, misal dengan mengirim perwakilan untuk melakukan audiensi ke lembaga pemerintahan terkait. Karena esensi dari aksi adalah supaya tuntutan bisa didengar, bukan?,” tanya Riyan.

Selanjutnya dia juga meminta agar pihak-pihak yang berencana melakukan aksi untuk mempertimbangkan kembali dampak yang akan ditimbulkan. Menurutnya, menyuarakan kebaikan tentu juga harus diiringi dengan cara-cara yang baik. Sehingga kita semua dapat fokus memajukan bangsa Indonesia ini.

“Coba kita hitung plus minusnya, aksi yang melibatkan ribuan orang itu bisa menimbulkan kemacetan, mengganggu aktifitas masyarakat lainnya, biaya pengamanan dan lain-lain. Memperjuangkan kebaikan tentu juga harus dengan cara yang ma’ruf (baik).¬†Akhirnya, energi bangsa kita terkuras padahal masih banyak agenda kebangsaan lainnya yang harus kita kerjakan,” tuturnya.

Terakhir, Riyan yang juga eks Presma UIN Syarif Hidayatullah itu justru mempertanyakan siapa yang paling diuntungkan kepentingannya ketika isu tersebut terus digelontorkan ke publik.

“Saya justru bertanya-tanya jika aksi ini tetap dilakukan, membawa kepentingan siapa,” tutupnya. (HS)