Beranda News Nasional Menteri Pertahanan Sebut Komunis Indonesia Sering Rapat di Warung Makan

Menteri Pertahanan Sebut Komunis Indonesia Sering Rapat di Warung Makan

"Kalau mereka tidak berbuat apa-apa, enggak ada masalah. Ini rapat sana, rapat sini. Bukan kita enggak tahu rapat apa. Itu mau apa? Basa sajalah. Kenapa rapat di tempat makan, kayak serius,"

WIB
88 views
| Estimasi Baca: 1 menit
Ryamizard Ryacudu
Menteri Pertahanan, Ryamizard Ryacudu. [*istimewa]
Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia

Redaksikota.com – Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu mendukung upaya razia besar-besaran terhadap buku yang berisi ajaran komunisme oleh jajaran aparat keamanan Indonesia.

Ryamizard menegaskan bahwa tidak boleh ada lagi paham komunis di Indonesia pasca Partai Komunis Indonesia (PKI) pada 1965 lalu. Namun, ia mensinyalir kini ada lagi pergerakan-pergerakan komunis yang tetap mencoba hidup dan berkembang. Salah satunya dikatakan Ryamizard adalah adanya aktifitas rapat antar sesama penganut paham Komunis ini.

“Kalau mereka tidak berbuat apa-apa, enggak ada masalah. Ini rapat sana, rapat sini. Bukan kita enggak tahu rapat apa. Itu mau apa? Basa sajalah. Kenapa rapat di tempat makan, kayak serius,” ujar Ryamizard, di Istana Negara, Jakarta Pusat, Kamis (24/1/2019).

Mantan Kepala Staf TNI Angkatan Darat itu menjelaskan paham komunis memang masih ada saat ini di beberapa negara seperti Rusia, China maupun Korea Utara.

Bahkan, negara-negara itu berteman baik dengan Indonesia. Namun ia meminta agar masyarakat Indonesia tidak ada lagi yang suka dengan komunis. Sebab, komunis pernah membuat sejarah kelam di Tanah Air.

Kata Ryamizard, komunis yang ada di Indonesia melalui PKI, sudah tiga kali memberontak yakni 1926, 1948, dan 1965.

“Sudahlah, saya sudah sampaikan kemarin, tidak usah suka komunis. Komunis di Rusia, China, teman semua kok, enggak ada masalah,” katanya.

Beredarnya buku-buku komunis, menurutnya, juga sangat membahayakan. Maka, sesuatu yang masih kecil, harus diantisipasi agar tidak membesar.

“Ini masalah dendam. Dendam itu. Ini kita kecilkan lagi, kalau gede susah lagi. Belum lagi paham radikal, sama itu. Saya ngerti, bahaya negara ini,” katanya.