Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia

Redaksikota.com – Mendekati Penyelenggaraan pemilu 2019 segmentasi pemilih milenial terus menjadi idola, bukan saja jumlahnya yang saat ini dinilai pemilih mayoritas tapi juga dianggap sebagai pemilih yang paling rasional dalam menentukan pilihan.

Menurutah Syukri dari PB Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) banyaknya pemilih dari kalangan milenial membuat seluruh partai politik berebut di segmen yang sama.

“Partai politik memperebutkan pemilih melenial sangat serius, meskipun anak-anak muda minat politiknya masih rendah,” terang Syukri dalam diskusi arah politik milenial yang diselenggarakan PKC PMII DKI Jakarta di Up2u Cafe, Cikini, Jakarta Pusat, Jumat (23/11/2018).

Meski berebut, pengamat politik Karyono Wibowo mengingatkan untuk seluruh kontestan yang berlaga pada pemilu mendatang harus mendahulukan gagasan yang bisa diterima oleh kaum milenial.

“Saya mengamati menjelang kontestasi banyak orang mendadak milenial, generasi milenial bukan generasi yang pasif maka ketika ada kandidat yang hanya menyamai setyle milenial belum tentu itu menjadi hal yang di pilih,” terang Karyono Wibowo.

Sementara itu Komisioner KPU DKI Jakarta Nurdin menyampaikan bahwa kaum milenial harus juga berperan aktif dalam hal mensukseskan pemilu dengan menjadi bagian dari penyelenggara.

“Jadi bukan hanya menjadi penonton vtapi partipasi aktif sangat dibutuhkan. Dalam hal penyelenggara pemilu mulai dari KPU sampai Bawaslu sampai turun kebawah,” ujar Nurdin.

Hal senada juga disampaikan oleh anggota Bawaslu DKI Jakarta Burhanuddin Phamme yang beraharap kaum milenial juga aktif dalam pengawasan pemilu untuk mencegah pelanggaran pemilu.

“Penyelenggara pemilu khusus nya kami di Bawaslu terkait dengan milenial artinya memang ini penting untuk kita libatkan. Dalam pengawasan kami punya namanya pengawas partisipatif yang melibatkan milenial melalui berbagai kegiatan,” terang Burhanuddin.

Sementara ketua PKC PMII DKI Jakarta, Daud Gerung menyayangkan partai politik yang hingga saat ini masih menjadikan milenial hanya vote getter dan tidak melakukan pendidikan politik yang baik, ia berharap di sisa waktu yang ada proses pendidikan politik kebangsaan juga harus terus digaungkan oleh kontestan pemilu.

“Seluruh kontestan jangan hanya vote Getter pada pemilih milenial tapi juga harus mendorong pendidikan politik kebangsaan khususnya dalam menjaga persatuan,” Daud Gerung.

(rel)