Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia

Redaksikota – Ketua Umum DPP Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Taufan Putra Revolusi Korompot mengajak kepada seluruh Mahasiswa Indonesia, untuk terus mengasah kreatifitas dan skill.

Tujuan yang ingin disampaikan Taufan tersebut, agar Mahasiswa sebagai agent of change tidak hanya monoton mengkritisi pemerintahan saat ini saja, melainkan dapat ikut dalam mengambil langkah solutif di dalamnya.

“Bagaimana meningkatkan SDM. Kalau pemerintah tidak bisa buat mobil nasional sendiri, ya kita bikin sendiri. Pertajam skill dan keterampilan. Jadi kita tidak hanya bisa kritis saja, tapi bisa juga kasih solusi,” kata Taufan dalam kegiatan Seminar dan pra Rembuk Nasional Mahasiswa Indonesia di Gedung Joeang 1945, Selasa (22/8/2017).

selain itu, Taufan juga menilai sejauh ini problem negara Indonesia berada pada sektor ekonominya. Yakni kondisi ekonomi liber kapitalistik yang merajai pasar di Indonesia.

“Latar belakang masalah bangsa itu, yaitu bagi saya yg paling penting adalah sistem ekonomi kita yang masih jauh dari ekonomi pancasila, yakni berada dalam genggaman liberal kapitalistik. Ini yang menjadi problem mendasar bangsa ini,” pungkasnya.

Untuk itu, ia ingin agar Mahasiswa berupaya kembali menghidupkan ekonomi kerakyatan untuk melawan ekonomi kapitalis yang saat ini sudah menjadi momok bagi sektor perekonomian di Indonesia itu.

“Ketika Mahasiswa menghidupkan kembali budaya gotong royong yang sangat menjaga sikap toleransi itu, ekonomi liberal kapitalistik tidak akan terjadi,” tukasnya.

Senada dengan Taufan, aktivis senior Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Bursah Zarnubi juga menilai hal yang sama. Ia juga mengingatkan agar Pemuda Indonesia khususnya kaum Mahasiswa agar bisa menunjukkan kualitas dirinya untuk tampil dalam konteks pembangunan nasional.

“Pemuda itu memang tidak bisa dipisahkan dengan sejarah di Republik Indonesia. Hampir sejarah-sejarah di belahan dunia, anak muda yang mengambil peran di dalamnya untuk mencapai kemerdekaan,” kata Bursah dalam kesempatan yang sama.

Untuk itu, ia mengingatkan agar Mahasiswa terus mengembangkan kemampuan dalam berbagai sektor yang ada, sehingga perkembangan dan kemajuan negara bisa terkontrol dan berjalan dengan baik lantaran peran aktif dari para generasi mudanya.

“Makanya saya ingatkan, Mahasiswa itu jangan hanya berangkat pagi pulang petang. Tapi kalian asah kemampuan dan skill. Indonesia akan maju jika Mahasiswanya tampil,” terang Bursah.

“Banyak peran anak-anak muda yang bisa diambil, baik di bidang keamanan dan lain sebagainya. Memang pemuda bisa mengambil dan berperan di dalamnya. Karena pemuda itu adalah pemimpin. Kalau tidak ditopang dengan anak-anak muda, maka akan ada krisis sosial,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Bursah juga menegasakan bahwa bangsa Indonesia tidak perlu lagi terlalu menggesek masalah Pancasila. Baginya, Pancasila adalah ideologi negara yang sudah final dan tidak bisa diganggu-gugat. Jika bangsa Indonesia masih berkutat dengan perdebatan soal Pancasila, Bursah menilai Indonesia justru akan kalah dengan negara-negara lainnya.

“Pancasila itu sudah final, harus sampai ke kita benang merahnya, sehingga kita bisa berkompetisi. Kalau kita masih cakar-cakaran soal falsafah, maka kita akan semakin tertinggal dengan negara-negara maju,” tukasnya.

Masih satu nada dengan kedua tokoh tersebut, eks Presiden AMSA Indonesia, Zainuddin Arsyad pun memiliki pemikiran yang sama. Ia menilai bahwa Mahasiswa harus memiliki peran penting dalam setiap garis kehidupan yakni menjadi seorang pemimpin.

“Mari kita nanti menata diri untuk menjadi pemimpin. Pemimpin tidak harus menjadi Presiden maupun Menteri, tapi menjadi pemimpin di setiap step garis perjuangan hidup kita,” kata Zainuddin.

Selain itu, Zainuddin juga meminta kepada Mahasiswa untuk memiliki pemikiran sendiri dalam bersikap dan bertindak. Sehingga Mahasiswa tahu apa yang sedang dijalankan, khususnya untuk ikut mengisi dalam mencapai tujuan kemerdekaan di Republik Indonesia.

“Sekarang mahasiswa kalau lulus sering membawa pemikiran orang lain. Ciri-ciri yang membawa pemikiran orang lain adalah dia ngotot ketika berdebat. Dia belum bisa berfikir sendiri. Silahkan memiliki fikiran apapun untuk membangun bangsa, selama tidak bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945,” tegasnya.

Lebih lanjut, Zainuddin pun berpesan agar Mahasiswa sebagai generasi muda Indonesia harus terus mengasah kemampuan dan kualitas diri.

“Bagaimana kita mau menata bangsa ketika kualitas kita masih berada di bawah standar,” pungkasnya.