Zainuddin Arsyad
Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia

Redaksikota – Presiden ASEAN Muslim Students Association (AMSA), Zainuddin Arsyad mengeluhkan beberapa gerakan ummat beberapa waktu terakhir ini lebih didominasi oleh Ulama yang notabane adalah sebagai senior gerakan. Termasuk juga yang ada dalam jajaran Front Pembela Islam (FPI), Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) MUI, maupun Forum Umat Islam (FUI). Ia mengatakan jika dalam sebuah gerakan massa, seharusnya Mahasiswalah yang menjadi garda terdepan.

“Harapan saya, cobalah orang tua mulailah legowo, coba anak muda menghormati orang tua, cobalah mulai berikan panggung itu kepada anak muda. Saya rasa tujuannya akan lebih tercapai,” kata Zainuddin di Jakarta Pusat, Kamis (23/2/2017).

Namun saat ditanya apakah harapan itu sudah sampai dikomunikasikan secara kelembagaan dengan para Ulama, Zainuddin mengaku belum sampai ke tahap itu, hanya masih melakukan komunikasi secara tidak langsung. Pun demikian, ia mengatakan jika ke depan gerakan umat lebih didominasi dan dikomandoi oleh para Ulama tersebut, ia berpandangan justru mereka akan terus jadi sasaran tembak yakni kriminalisasi.

“Masih secara non-formal, masih komunikasi non-ferbal. Tapi kalau mereka masih terus di depan, habis mereka dikriminalisasi,” ujarnya.

Baginya, yang seharusnya dikriminalisasi itu adalah Mahasiswa. Karena menurutnya, memang seperti itulah nasib seorang aktivis Mahasiswa ketika sudah membentuk parlemen jalanan.

“Tapi kalau Mahasiswa yang dikriminalisasi, ya wajar karena sudah tugasnya kok Mahasiswa ditangkapi, dipukuli, itu sudah wajar. Kalau ada Mahasiswa baru dihantan sudah mengalah dengan gerakan, akan dipertanyakan keaktivitasnya,” tukasnya.

Lebih lanjut, Zainuddin menegaskan jika Mahasiswa tidak bisa diatur-atur. Yang ada adalah Mahasiswa itu didorong dan diarahkan untuk menggapai sebuah tujuan bersama.

“Mahasiswa ini kan emang gak bisa diatur, masak kamu mau atur Mahasiswa seperti bebek, ayo ikut ulama, ya bukan Mahasiswa. Kalau ada yang seperti itu malah dipertanyakan, mana MAHA-siswa?,” ujarnya.

“Tapi kalau diarahkan bisa, coba Ulama arahkan adik-adik Mahasiswa harus seperti ini, pasti akan jadi,” imbuhnya.

Sekali lagi, Zainuddin mengingatkan bahwa jangan sampai sebuah gerakan apapun di Indonesia, peran Mahasiswa diletakkan di garda tengah apalagi di garda paling belakang. Justru Mahasiswa sudah selayaknya berada di garda terdepan dalam sebuah gerakan apapun. Namun jika aksi umat tetap terus dilakukan dengan ego sektoral oleh para Ulama tersebut, yang ada justru tidak tersampainya pada tujuan yang sama itu.

“Kalau anak muda selalu digeser, orang tua juga tetap mempertahankan egonya, gak akan jadi nih barang, justru yang ada malah kehancuran,” tuturnya. [mib]