Pengamat politik Indonesian Public Institute (IPI), Karyono Wibowo. Foto: Redaksikota.com/Fiqi Septiansyah.
Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia

Redaksikota.com – Direktur Indonesian Public Institute Karyono Wibowo menilai, melihat seberapa besar efek debat pertama terhadap elektabilitas kandidat harus dilakukan survei persepsi publik untuk mengukur pengaruh hasil debat terhadap elektabilitas masing-masing pasangan calon presiden.

Jika belum ada survei kuantitatif maka untuk mengetahui seberapa besar efek debat paling-paling menggunakan analisis kualitatif deskriptif.

“Metode tersebut sifatnya kualitatif yang bersumber dari pendapat pribadi masing-masing individu. Hal itu sulit untuk dijadikan ukuran secara obyektif dan faktual dalam mengukur pengaruh debat terhadap elektabilitas kandidat,” kata Karyono, Selasa (22/1/2019).

Namun secara umum, lanjutnya debat kandidat belum menjadi “selling point” atau nilai jual utama untuk meningkatkan elektabikitas. Meski harus diakui ada tren kenaikan pengaruh debat terhadap elektabilitas secara gradual.

Hal yang menjadi indikator adalah, katanya lagi meningkatnya minat masyarakat untuk menonton debat kandidat tetapi pengaruh debat dalam memengaruhi pilihan belum signifikan. Apalagi jika melihat debat pertama nampak belum menunjukkan kualitas debat yang mampu membuat publik puas dan yakin akan menentukan pilihannya.

“Jika dilihat dari survei perilaku pemilih sebelumnya, pada umumnya, faktor utama yang dijadikan pertimbangan memilih justru faktor figur kepribadian (personality) kandidat,” kata Karyono.

“Seperti jujur, merakyat, bersih, dermawan, dan rekam jejak (track record) kandidat yang positif seperti prestasi yang pernah dilakukan, investasi sosial, dan lain-lain. Melihat hasil debat pertama, menurut saya belum cukup signifikan untuk memengaruhi pemilih mengambang (swing voters),” katanya lagi.

Barangkali jika diamati yang terjadi pascadebat pertama adalah, lanjut Karyono penilaian masing-masing antar pendukung paslon yang menilai hasil debat sesuai dengan penafsiran yang sulit melepaskan perasaan subyektif dan ekspresi emosi.

Pada umumnya kalangan tersebut masing-masing sudah menentukan pilihannya terhadap paslon yang didukungnya. “Sementara kalangan pemilih yang masih mengambang belum banyak yang terpengaruh karena masih wait and see atau menunggu hasil debat berikutnya,” ujarnya.