Jokowi
Presiden Joko Widodo saat doorstop dengan awak media di JCC Senayan. [foto : Setkab]
Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia

Redaksikota – Presiden Joko Widodo sangat mendukung adanya kritik yang disampaikan oleh siapapun karena ia menganggap bahwa kritikan tersebut adalah bagian dari wujud sistem demokrasi yang selama ini dianut oleh Indonesia.

Namun ia memberikan catatan bahwa kritik harus dilakukan dengan baik dan tujuannya adalah untuk mengentaskan persoalan yang ada, termasuk untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, peningkatan dan memerataan kesejahteraan dan sebagainya. Hal itu bisa terjadi ketika kritikan tersebut memang tujuannya untuk membangun.

“Kita harus membuat demokrasi yang selalu mendukung tata kelola pemerintahan yang baik, untuk mengatasi persoalan nyata yang dihadapi rakyat, untuk mengatasi kemiskinan, untuk pemerataan kesejahteraan, untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, dan untuk meningkatkan daya saing bangsa,” kata Presiden Jokowi di acara Rapimnas II Partai Perindo di JCC Senayan, Jakarta Selatan, Rabu (21/3/2018).

Kemudian Presiden juga mengatakan bahwa hak berpendapat sangat dihargai di ranah demokrasi. Namun ia berpesan agar demokrasi tersebut justru membuat sentimen negatif yang mengganggu pembangunan nasional.

“Proses demokrasi khususnya pilkada di tahun 2018 beserta pileg dan pilpres tahun 2019, tidak boleh mengganggu mementum pembangunan nasional yang sedang kita lakukan,” tegasnya.

Lebih lanjut, mantan Gubernur DKI Jakarta sekaligus mantan Walikota Solo tersebut menyerukan kepada seluruh bangsa Indonesia untuk lebih meningkatkan persatuan dan kesatuan antar sesama bangsa Indonesia. Bahwa perbedaan yang ada tidak boleh malah membuat bangsa terpecah belah.

“Perbedaan jangan mengganggu persatuan dan kesatuan. Perbedaan pendapat dan perbedaan pilihan itu biasa. Sekali lagi, harus menjunjung tinggi sopan santun dan adat ketimuran,” ujarnya.

Salah satu wujud agar nilai-nilai budaya ketimuran tersebut terawat adalah dengan tidak melakukan tindakan-tindakan yang justru merendahkan dan menyakiti antar sesama bangsa Indonesia.

“Kita tidak saling menghujat dan mencemooh, tidak pula menyebar berita bohong dan ujaran kebencian,” tambahnya. (red/st-kab)