Ketua Umum PKPI, AM Hendropriyono. [foto : nisfi maghfurin/redaksikota]
Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia

Redaksikota – Mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), AM Hendropriyono menyampaikan bahwa seharusnya peringatan G30S/PKI itu tidak perlu diperingati atau dibesar-besarkan, justru rakyat dan negara harus memperingati Hari Kebangkitan Pancasila Sakti yang berlangsung setiap tanggal 1 Oktober. Karena bagi Hendropriyono, justru Hari Kesaktian Pancasila Sakti justru merupakan bentuk perwujudkan kemenangan ideologi Pancasila dari ideologi yang merusak.

“Sebenarnya bukan peringatan G30S, karena itu sebuah sejarah yang tidak baik buat bangsa kita. Yang harus kita peringati adalah 1 Oktober yaitu Hari Kesaktian Pancasila, itu yang harusnya kita syukuri atas kemenangan suatu Pancasila terhadap rong-rongan ideologi yang lain,” kata AM Hendropriyono dalam sebuah kesempatan.

Ia menegaskan bahwa ideologi komunisme tidak akan bisa berkembang lagi lantaran kalah dengan ideologi lain. Bahkan sekelas China saja yang terkenal dengan Negara Komunisnya itu, menurut Hendro kini sudah tidak lagi menggunakan konsep komunismenya untuk mengembangkan negaranya.

“Di dunia ini siapa lagi sih yang percaya sama komunisme, sedangkan China sendiri sekarang tidak lagi menggunakan teori-teori dan metode di dalam pembangunan bangsanya sebagai komunis. Sekarang dia sudah liberal dan cenderung kapitalis,” terangnya.

Bahkan mantan Panglima Kodam V/Jaya tersebut mengatakan bahwa kebangkitan PKI adalah tanggung jawab aparat keamanan Indonesia. Termasuk juga dengan munculnya hingar-bingar adanya isu kebangkitan Partai Komunis Indonesia itu.

“Kalau toh ada sisa-sisa PKI atau PKInya bangkit kembali, itu kan tanggung jawabnya aparat keamanan,” tandasnya.

“Jika seandainya aparat keamanan justru membiarkan hingar-bingar tentang adanya PKI bangkit kembali, kan rakyat jadi bingung. Ini sebetulnya siapa yang bertanggung-jawab, setelah 30 tahun lamanya lebih kita menumpas PKI di era orde baru, kok tiba-tiba di era reformasi bisa tiba-tiba muncul, berarti kan tidak waspada aparat keamanan kita,” imbuhnya.

Hendropriyono yang juga Ketua Umum Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI) tersebut tidak sepakat jika isu munculnya kebangkitan PKI tersebut langsung serta-merta ditumpukan kepada Presiden Joko Widodo maupun jajaran pemerintahannya.

“Ini tidak bisa serta-merta dipersalahkan kepada pimpinan nasional, karena Presiden sebagai kepala negara, kepala pemerintahan, penguasa tertinggi atas angkatan darat, laut, udara, dan kepolisian, republik Indonesia pekerjaanya bukan cuman ini, adalah memanage kenegaraan, yaitu meliputi politik, ekonomi, sosial, kebudayaan, hukum, dan lain-lain termasuk pertahanan keamanan,” terang Hendropriyono.

Sementara terkait dengan apa target utama jika benar-benar PKI akan mencoba bangkit kembali. Hendropriyono yang pernah mendapatkan gelar Guru Besar bidang ilmu intelijen dari Sekolah Tinggi Intelijen Negara (STIN) tersebut mengajak masyarakat untuk lebih cerdas melihat polanya, apakah benar isu kebangkitan PKI tersebut benar adanya.

“Persoalannya sekarang, kalau ada muncul lagi PKI sebagai subjek yang melakukan pemunculan ini, lihat sasarannya kemudian metodenya. Kalau metodenya hingar-bingar begini sasarannya apa. Kalau sasarannya PKI yang kita benci ini memang mau bangkit kembali, masak hingar-bingar begini, kan jadi gampang kita nangkepnya,” ujar Hendro.

Justru jika upaya PKI muncul dengan cara membuat kegaduhan dan seperti unjuk gigi seperti saat ini, Hendropriyono menilai akan sangat mudah menumpas upaya kebangkitan partai yang kini sudah dilarang keras oleh negara itu.

“Kalau cuma seminar, bubarkan saja seminarnya itu, apa susahnya. Kalau ribut-ribut apanya. Ya diusut saja siapa ini yang bikin panggal gara-gara ini, dalangnya siapa kok bikin-bikin seminar, gitu saja. Jangan dibesar-besarkan seolah-olah negara kita terancam oleh komunis, orang pada ketawa,” tambahnya.

PKI Tidak Akan Bangkit Lagi

Sebagai purnawirawan TNI dari Angkatan Darat, Hendropriyono meyakini jika PKI tidak akan muncul lagi sampai kapanpun selama TAP MPRS Nomor 25 Tahun 1966, dimana dalam ketentuan negara tersebut, gerakan yang menggunakan dasar Komunisme, Leninisme, dan Marxisme tidak boleh tumbuh di Indonesia.

“Saya sebagai tentara sudah yakin bahwasanya dengan adanya TAP MPR yang tetap kita pegang teguh Nomor 25 itu, jelas komunisme sudah dilarang di Republik Indonesia. Jadi kalau ada lagi yang menggunakan aliran ideologi komunisme ini, ya terang udah gak ada tempat di Republik ini,” pungkasnya.

Antisipasi Ada Oknum Berkepentingan

Lebih lanjut, Hendropriyono justru mengkhawatirkan jika di balik kegaduhan dan hingar-bingar tentang isu kebangkitan PKI ini ada oknum orang maupun kelompok tertentu yang mencoba memanfaatkannya.

“Kalau kita membiarkan ini bergulir terus sampai rakyat bingung, maka yang bergerak nanti adalah kekuatan ireguler, kekuatan massa yang tidak berpribadi dan sulit dikendalikan, dan kita akan sulit mengantisipasi apa yang akan terjadi,” ujar Hendro.

Jika memang hal ini sampai terjadi dan rakyat semakin gaduh dengan phobianya dengan kebangkitan PKI tersebut, Hendro mengatakan justru oknum yang berkepentingan dengan adanya kegaduhan tersebut akan memerankan perannya.

“Dan ini kesempatan orang untuk mengail di air keruh, konkretnya siapa yang punya agenda ini dia akan main kalau sudah kacau, chaos,” ujarnya.

Tonton video pernyataan AM Hendropriyo di Vidio.com