Beranda News Nasional Cerdasnya Straregi Jokowi Amankan Kursi Presiden

Cerdasnya Straregi Jokowi Amankan Kursi Presiden

145 views
Karyono Wibowo
Pengamat politik The Indonesian Public Institute (IPI), Karyono Wibowo. [foto : fiqi septiansyah/redaksikota]
Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia

Redaksikota – Masuk tahun politik yang masuk pada tahun 2018 dan 2019 ini, berbagai strategi cerdas harus dimiliki oleh siapapun yang ingin maju maupun yang ingin mempertahankan tahtanya. Salah satunya adalah yang dilakukan oleh Presiden Joko Widodo saat ini.

Menurut pengamat politik dari Indonesia Public Institute (IPI) Karyono Wibowo, salah satu poin yang menarik adalah kebijakan Presiden Joko Widodo yang ingin terus menggandeng Partai Golkar untuk menjadi sahabat baiknya.

“Untuk maju di Pilpres 2019 harus memenuhi ambang batas 20% suara di DPR. Dengan adanya dukungan Golkar, maka sementara Jokowi bisa ‘tidur nyenyak’,” kata Karyono Wibowo dalam keterangannya kepada wartawan, Kamis (18/1/2018).

Bukti jika Jokowi ingin terus bermesraan dengan Golkar adalah dengan keputusannya untuk menarik Idrus Marham yang berperan sebagai Sekretaris Jenderal (Sekjen) DPP Partai Golkar, dan juga Airlangga Hartarto yang tetap menjabat sebagai Menteri Perindustrian walaupun saat ini sudah memegang mandat sebagai Ketum Partai Golkar.

“Dengan bertambahnya kader Golkar di kabinet maka Jokowi berhitung posisi pemerintahannya masih aman. Karena dengan masuknya Idrus di kabinet, berarti ada tiga kader Golkar yang menjadi menteri. Hal itu semakin memastikan dukungan Golkar terhadap pemerintahan Jokowi,” terangnya.

Selain itu, hitung-hitungan politik Jokowi juga sangat cerdas, dimana Golkar yang saat ini sebagai partai pemenang nomor dua di pemilu 2014 dengan perolehan 18.432.312 suara (14,75%), ditambah dengan Partai Nasdem dan Partai Hanura yang ketiganya sudah mendeklarasikan dukungan kepada Jokowi sebagai calon presiden 2019. Dengan demikian, maka persyaratan ambang batas (presidential threshold) Jokowi untuk maju sebagai Calon Presiden 2019 mendatang sudah terpenuhi.

“Belum lagi nanti ditambah dukungan PDI Perjuangan,” kata dia, seperti yang dikutip dari Antara.

Namun, lanjutnya, jika PDIP memiliki kalkulasi politik lain, misalnya ada maksud berpaling dari Jokowi maka PDIP terlalu berspekulasi, dampaknya bisa rugi sendiri. Ia pun masih memprediksikan jika PDIP tetap mendukung Jokowi di Pilpres 2019. Namun demikian persoalan politik masih masih dinamis dan masalah menunggu waktu.

“Kita tunggu saja keputusan PDIP (untuk Capres-Cawapres 2019),” paparnya.

Karyono juga menyarankan agar PDIP perlu mempertimbangkan aspek Jokowi Effect. Jangan sampai muncul persepsi publik bahwa PDIP terkesan ragu atau terkesan tarik ulur mendukung Jokowi di pilpres 2019 karena bisa menimbulkan efek negatif di mata pendukung Jokowi yang jumlahnya masih mayoritas dibanding figur capes lain.

“PDIP jangan sampai offside. Sayang lho, jangan sampai kadernya sendiri dicaplok partai lain,” ungkapnya. (*)