Teuku Neta Firdaus
Direktur The Jokowi Center, Teuku Neta Firdaus.
Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia

Jakarta, Redaksikota.com – Direktur The Jokowi Center, Teuku Neta Firdaus menolak gagasan menerapkan lockdown di seluruh wilayah Indonesia.

Menurutnya, fokus tugas sekarang adalah mencegah penyebaran virus Covid-19 yang antara lain dengan berdiam di rumah. Seperti disampaikan Presiden Joko Widodo selama pandemi corona diminta masyarakat untuk sementara waktu kerja dari rumah, siswa belajar di rumah, dan beribadah di rumah.

“Untuk menerapkan lock down sebuah kota bahkan sebuah negara perlu perencanaan dan kesiapan semua pihak. Indonesia negara yang luas dan besar tidak bisa disamakan dengan lockdown di China, Italia, dan terbaru di Malaysia,” papar Teuku Neta di Jakarta, Selasa (17/3/2020).

Teuku Neta menjelaskan, kini pemerintah bekerja maksimal untuk memutuskan mata rantai menularnya Covid-19. Caranya mengurangi interaksi dengan warga lain melalui “social distancing”, menghindari paparan dan penularan atau menjaga jarak dengan orang lain.

Membatasi interaksi sosial adalah tindakan non-farmasi untuk menghentikan atau memperlambat penyebaran virus Covid-19. Dalam sejarah, taktik social distancing berhasil mengatasi pandemi flu virus H11N1 di Amerika Serikat pada 1918.

“Libur belajar di sekolah atau kampus namun belajar di rumah melalui online termasuk kerja dari rumah adalah salah satu cara memotong mata rantai penyebaran Covid-19,” jelasnya.

Menyangkut gagasan untuk lockdown Indonesia atau sebagian wilayah, Teuku Neta menuturkan perlu pertimbangan banyak aspek seperti kesiapan warga, pemerintah daerah, dan kajian lainnya. Sebelum menuju ke langkah terakhir lockdown yang radikal itu, warga harus bisa menahan diri di rumah sebagai langkah awal.

Teuku Neta menjelaskan jika sebuah kota di lockdown, warga dipastikan mau bertahan di rumah selama 24 jam non-stop selama 14 hari.

“Lockdown butuh banyak kajian yang harus dipersiapkan dan diputuskan. Sebelum ke sana, sosialisasi dulu kepada warga untuk tetap berdiam di rumah,” ajak Teuku Neta.

Teuku Neta mengutip UU Nomor 6 Tahun 2018 perihal Kekarantinaan Kesehatan yang memungkinkan isolasi wilayah diberlakukan. Karatina yang memiliki banyak makna seperti karatina wilayah, karatina RS termasuk pembatasan sosial yang dibahas dalam Pasal 49. Perihal karatina dengan menutup akses masuk ke wilayah dengan syarat ada penyebaran penyakit di masyarakat, dijaga oleh aparat, kebutuhan dasar warga dipenuhi oleh pemerintah.

“Untuk diterapkan lockdown di seluruh Indonesia harus ada koordinasi yang cepat dengan semua provinsi. Butuh kesiapan mental masyarakat patuh pada instruksi dan komitmen semua anak bangsa. Jadi sekarang kita fokus pada pencegahan penyebaran Covid-19 dan pengobatan yang terpapar Corona,” pungkasnya.

Sekadar catatan total kasus positif virus Corona (Covid-19) pada Selasa (17/3/2020) menjadi 172 orang, 5 orang meninggal dunia. Pemerintah juga memperpanjang masa darurat bencana akibat Corona hingga 29 Mei 2020.