istimewa
Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia

Redaksikota.com – Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) DPP Partai Demokrat, Rachland Nashidik menegaskan bahwa partainya akan ikut mati-matian berjuang memenangkan Prabowo Subianto dan Sandiaga Salahuddin Uno di Pilpres 2019. Ia mengatakan sikap tersebut bukan karena partainya tunduk pada Prabowo atau partai sekutu, melainkan lebih kepada komitmen partai.

“Kenapa tidak keluar Koalisi Prabowo-Sandi? Demokrat memegang komitmen. Kami tak ingkar janji untuk berjuang memenangkan Prabowo-Sandi,” kata Rachland dalam kicauan akun twitternya, @RachlanNashidik, Rabu (15/8/2018).

Hanya saja ketika partai koalisi baik PKS maupun PAN melakukan serangan lagi kepada kadernya di Demokrat soal uang mahar Rp500 miliar untuk masing-masing partai pengusung Prabowo-Sandi, maka pihaknya tidak segan-segan akan melakukan serangan lanjutan kepada kedua partai tersebut.

“Tapi saya akan bicara lagi bila PKS dan PAN kembali menyerang Andi Arief,” tegasnya.

Suara Andi Arief Suara Seluruh Kader Demokrat

Disampaikan Rachland bahwa apa yang dilontarkan Andi Arief terkait dengan mahar politik Sandiaga Uno adalah kebenaran dan merupakan jeritan hari para kader Demokrat yang kecewa dengan sikap politik Prabowo Subianto. Betapa tidak, hanya karena mahar tersebut, pilihan Prabowo untuk menggandeng Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) sebagai cawapres sirna begitu saja di last minutes.

“Sikap Andi Arief yang terang-terangan mewakili sebenar-benarnya suara hati setiap kader Demokrat. Dia tidak sendirian. Dia berkelahi demi kehormatan Partai dan setiap kadernya, bukan untuk dia pribadi,” terang Rachland.

Disampaikan Rachland bahwa saat upaya pembentukan koalisi sebelumnya, Partai Gerindra dan Partai Demokrat sudah sepakat untuk mengusung Prabowo-AHY di Pilpres 2019. Menurutnya, pilihan tersebut dilihat melalui sudut pandang elektabilitas. Apalagi disampaikan Rachland, pemilihan AHY Cawapres bukan berasal dari usulan Demokrat melainkan pilihan Prabowo dengan Gerindra sendiri.

“Prabowo yang datang pada kami, bukan sebaliknya. Prabowo yang menyebut nama AHY, bukan kami. Prabowo yang memberi alasan kenapa AHY, bukan kami. Ketika dia pilih Sandi, kami bertanya: Elektabilitas Sandi berapa? Kenapa Gerindra dengan Gerindra? Saudara mau menang, tidak?,” tuturnya.

Ia juga tidak serta merta menyalahkan Prabowo dalam kasus ini, karena betapapun koalisi harus terbentuk karena kesepkatan. Dan sayangnya, kesepakatan tersebut terbentuk dalam kondisi yang kurang menyenangkan bagi Demokrat.

“Elektabilitas AHY jauh di atas Sandi. Di atas kertas, dia bisa menyumbang elektabilitas Prabowo. Begitupun, karena konon Prabowo tak bisa melawan PKS dan PAN, kami tak memaksa. Kami bilang: kalau mau menang, cari Cawapres lain dengan elektabilitas cukup dan diterima semua pihak,” pungkasnya.

(red)