Jenggala Center
Diskusi di Jenggala Center bertemakan "Golkar Menuju Partai Modern Dalam Memperkuat Sistem Politik Indonesia Yang Demokratis: Golkar Memperkuat Sistem Politik Indonesia"
Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia

Redaksikota.com – Partai Golkar segera menghadapi suksesi di akhir tahun ini dengan menggelar Musyawarah Nasional (Munas) pada tanggal 4-6 Desember 2019 mendatang.

Sebagai salah satu partai tertua dan terbesar di Indonesia, pergantian pemimpinnya menjadi perhatian masyarakat. Suksesi ini dihadapkan dengan tantangan, apakah parpol ini menguatkan demokrasi, atau sebaliknya.

Hal ini mengemuka dalam diskusinyang diselenggarakan Beberapa pembicara yang hadir adalah Saiful Mujani dari SMRC, Hendri Satrio dari Kedai Kopi, dan tokoh senior Golkar Iskandar Mandji.

Sebagai pembicara pembuka, Saiful Mujani menyatakan bahwa tantangan partai politik kedepan adalah menghindari oligarki, nepotisme dan klientilisme.

Dalam era demokrasi ini, oligarki dan nepotisme akan membuat kekuatan partai terkonsentrasi pada sekelompok orang saja dan penghargaan diberikan bukan karena karya tapi karena preferensi personal. Hal ini jelas menghambat kemunculan kader baru yang nanti akan membahayakan sendiri keberlanjutan partai tersebut.

“Karena itu, harus ada kontestasi dalam internal partai. Karena jika tidak, akan terjadi oligarki dan nepotisme,” ungkap Saiful di kantor Jenggala Center, Jakarta, (13/11/2019).

Founder Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) ini mengatakan, bahwa Golkar saat ini cukup terbebas dari dua hal tersebut. Sebab kontestasi yang ada di dalam Golkar menjelang suksesi di Munas 2019 nanti, banyak nama muncul seperti Airlangga Hartarto dan Bambang Soesatyo.

Golkar, bagi Saiful, bisa menjadi contoh partai lain untuk menghindari oligarki dan nepotisme.

Namun, Golkar masih memiliki masalah dengan klientilisme. Artinya, siapa yang memiliki uang, mereka lah yang akan menguasai partai.

Bertahannya Golkar hingga kini mewujudkan bahwa pergantian pimpinan terus berjalan. Namun, masih dikuasai oleh mereka yang memiliki kekuatan modal.

“Hal itu (klientilisme) masih menjadi catatan bagi Golkar,” tutur Saiful.

Ia menambahkan bahwa klientilisme ini bisa makin pelik jika uang yang menjadi patron dalam masalah tersebut bersumber dari luar partai.

Dalam kesempatan yang sama, co-founder Kedai Kopi, Hendri Satrio menyampaikan, bahwa terdapat beberapa tantangan parpol di era saat ini khususnya Golkar sebagai salah satu partai mayoritas dalam era Indonesia demokratis saat ini.

Bagi Hendri, sikap Golkar selalu menjadi perhatian publik termasuk pemerintah. Dalam beberapa hal misalnya, alokasi dana partai, pilkada langsung vis a vis tak langsung, dan amandemen konstitusi.

“Suara Golkar sebagai mayoritas dan sebagai koalisi pemerintah menjadi penentu penting arah perkembangan isu di Indonesia,” ujar Hendri.

“Sebagai contoh jika Golkar akan terus mendorong pilkada langsung, akan menjadi penguat demokrasi yang telah berjalan saat ini, dan sebaliknya,” imbuhnya. []