Beranda Headline Effendi Simbolon: Isu SARA Rusak Tatanan Bangsa dan Negara

Effendi Simbolon: Isu SARA Rusak Tatanan Bangsa dan Negara

426 views
Effendi Simbolon
Effendi Muara Sakti Simbolon. [foto : istimewa]
Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia

Redaksikota.com – Politisi PDI Perjuangan, Effendi Simbolon menilai bahwa tatanan sosial berbangsa dan bernegara akan rusak jika isu fundamental yakni Suku, Agama, Ras dan Antargolongan (SARA) masih menjadi komoditas politik di Indonesia.

“Isu SARA menjadi efek bisa merusak tatanan bangsa dan negara,” kata Effendi dalam diskusi publik dengan tema “Pemilu Damai Tanpa SARA: Demokrasi 2019 Tanpa Caci Maki” di UP2YU Resto & Cafe, Cikini, Jakarta Pusat, Jumat (14/9/2018).

Maraknya isu SARA tersebut dijelaskan Effendi sangat kental dimulai dari Pilkada DKI Jakarta tahun 2017 lalu. Dimana banyak sekali gesekan-gesekan sosial terjadi karena politik identitas tersebut semakin kuat.

“Kita sendiri harus mampu menkoreksi karena fenomena ini mencuat ketika pilkada kemarin, alam sadar kita sudah tidak digunakan tetapi alam bawah sadar kita yang bergerak, Tuhan YME masih menyelamatkan kita,” tuturnya.

Ia juga mengingatkan pemilihan narasi dalam melakukan kampanye menjadi persoalan yang sangat penting, dan salah satu contoh yang ia soroti adalah narasi Neno Warisman. Disampaikan Effendi, bahwa deklarator hastag 2019 Ganti Presiden tersebut menggunakan narasi perang untuk mempengaruhi persepsi publik dalam memilih pemimpin nanti. Padahal menurutnya, narasi tersebut sangat sangat berbahaya sekaligus sudah tidak relevan digunakan di ranah demokrasi seperti saat ini.

“Kenapa harus digiring seolah harus perang badar, ini soal komunikasi yang terputus kok. Dinegara mana yang masih berlaku seperti itu. Pertarungan di Amerika keras tetapi tidak menggunakan cara-cara yang ada di Indonesia itu,” terangnya.

Lebih lanjut, Effendi Simbolon juga mengingatkan bahwa demokrasi harus menciptakan persatuan dan kesatuan antar bangsa Indonesia, bukan justru perpecahan antar sesama.

“Untuk apa kita pemilu kalau hanya mengundang kekisruhan seperti ini, kalau begitu batalkan saja pemilu,” sindirnya.

Terakhir, ia pun meminta agar seluruh elemen bangsa Indonesia saling menahan diri agar tidak terjadi konflik-konflik sosial gara-gara pemilu. Bahkan ia juga mengingatkan agar seluruh elite, peserta pemilu, penyelenggara, bahkan simpatisan harus saling menjaga kaidah hukum dan kebijakan yang telah disepakati bersama. Jika itu dilakukan, maka iklim demokrasi di Indonesia akan terjaga dengan baik dan arif.

“Semua seharusnya kita membaur. Yang berkuasa biarlah dengan caranya, buat yang ingin berkuasa ikuti kaidah yang ada di Indonesia,” tutupnya.

(ibn/bar)