angelica tengker
Angelica Tengker tabur bunga di salah satu makam di TMP Kalibata. [foto : istimewa]
Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia

Redaksikota.com – Puluhan warga yang tergabung dalam Kerukunan Keluarga Kawanua (KKK) menggelar tabur bunga dan doa bersama di Taman Makan Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta Selatan.

Dalam kegiatannya itu, Ketua umum KKK, Angelica Tengker mengatakan jika pihaknya hanya ingin memberikan penghormatan terhadap perjuangan para pejuang kemerdekaan khususnya di Sulawesi Utara.

“Kami hadir di TMP ini untuk menghormati para Oma-opa kita yang sudah berjuang dalam mempertahan kemerdekaan di Sulawesi Utara yang dikenal dengan peristiwa Pejuang Merah Putih 14 Februari 1946,” kata Angelica di TMP Kalibata, Jakarta Selatan, Kamis (14/2/2019).

Perjuangan yang bisa disampaikan kepada para generasi penerus menurut Angelica adalah bagaimana kegigihan para pejuang kemerdekaan tersebut menurunkan bendera Belanda di Sulawesi Utara sebagai bentuk perlawanan nyata terhadap penjajahan saat itu.

“Kisah perjuangan orang tua kita dalam mempertahankan kemerdekaan tersebut bergema sampai ke luar negeri. Menurunkan bendera Belanda di seluruh wilayah, menggunting bagian warna birunya dan mengibarkan kembali bagian sisanya yakni merah-putih. Ini terjadi dimana-mana demikian juga di Sulawesi Utara,” jelasnya.

Kemudian, Angelica juga mengatakan bahwa kegiatan tabur bunga dan doa bersama di TMP Kalibata tersebut bertujuan untuk membangkitkan rasa kebangsaan dan membangkitkan rasa nasionalisme kepada generasi muda.

“Karena itu kami warga Kawanua hadir di TMP Kalibata untuk memberikan penghormatan dan mengungkapkan rasa terimakasih kami atas perjuangan para orang tua kita yang gagah berani mempertahankan NKRI,” tandasnya.

Di tempat yang sama, Pemimpin rombongan Kerukunan Keluarga Kawanua (KKK) Mayjen Ivan R Pelealu menjelaskan, bahwa peristiwa heroik pejuang Merah Putih di Sulawesi Utara ini merupakan fakta sejarah.

“Perjuangan para orang tua kita yang menurunkan bendera Belanda dan merobek warna biru sehingga menjadi Merah Putih itu adalah fakta sejarah,” kata Ivan.

Pada waktu itu, sambung Ivan yang masih aktif di Lemhanas ini, tidak ada alat komunikasi seperti saat ini. Namun dengan keterbatasan akses informasi tersebut para pejuang tetap berjuang dengan gagah berani di Sulut memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

“Dulu kan belum ada alat komunikasi seperti saat ini. kalau saat ini, kejadian saat ini bisa langsung tersebar keman-mana bahkan ke seluruh dunia,” jelasnya.

Bahkan, sambungnya, perjuangan mempertahankan merah putih ini bergema sampai luar negeri dan juga sampai ke Presiden Soekarno.

Oleh karna itu, Ivan menganggap peristiwa 14 Februari 1946 ini layak untuk dieringati sebagai bentuk rasa hormat kepada para pejuang tersebut.

Agar supaya para generasi muda Indonesia juga bisa mengetahui sejarah yang ada. Salah satunya adalah dengan menetapkan 14 Februari sebagai Hari Nasional.

“Kami juga berharap 14 Februari bisa dijadikan hari Nasional untuk memperingati Perjuangan Merah Putih, misalnya seperti 10 November, Hari Guru dan hari lainnya,” harapnya.

“Tentunya kami juga akan mematuhi seluruh persyaratan dan kriteria yang ditentukan untuk menjadikan 14 Februari sebagai hari nasional,” demikian Mayjen Ivan R Pelealu.

Sejarah Singkat

Peristiwa Heroik Merah-Putih 14 Februari 1946 yang diperoleh dari Ben Wowor 97 tahun, sebagai salah satu pelaku sejarah yang masih hidup.

Gerakan patriotik Merah-Putih yang mengkudeta kekuasaan kolonial Belanda di Sulawesi Utara pada 14 Februari 1946 sungguh sebuah tonggak sejarah kebangsaan Indonesia yang sangat penting dan dengan dampak sangat strategis bagi perjuangan kemerdekaan republik ini.

Tapi sayang, secara historiografis terlalu sering dinilai di bawah nilai yang seharusnya; sehingga lebih sering dilupakan, terlebih di kalangan generasi muda.

Padahal peristiwa yang beritanya menggema sampai di media massa Amerika, Australia dan Inggris itu adalah satu-satunya gerakan perlawanan nasional Indonesia terhadap kolonialisme yang berhasil dalam arti sampai bisa mengambil alih kekuasaan resmi.

Menahan pucuk pimpinan militer dan pemerintahan Belanda. Menurunkan bendera Belanda di seluruh wilayah, menggunting bagian warna birunya dan mengibarkan kembali bagian sisanya yakni merah-putih.

Sedemikian fenomenalnya pemandangan yang baru pertama kali terjadi di wilayah ini dan langsung meluas, sehingga orang-orang menyebut kejadian ini sebagai “Peristiwa Merah-Putih”. Pemimpin tentara Sekutu yang bermarkas di Makassar dan Morotai sampai mengeluarkan pernyataan yang dapat diartikan bahwa pihaknya sudah memandang pemerintahan yang baru berdiri di Sulawesi Utara itu sebagai sebuah kekuasaan negara yang berdaulat!

Presiden Sukarno di Jogja, saat mendengar Radio AFP Australia yang memberitakan kejadian di Tanah Minahasa itu, sampai berkaca-kaca matanya saking terharu dan sangat bersukacita. Bung Karno lalu berkata: “Minahasa, walaupun daerah terkecil dan terpencil di wilayah RI, namun putra-putranya telah memperlihatkan kesatriaannya terhadap panggilan Ibu Pertiwi!”

Di jalur perjuangan diplomatik internasional, Duta Republik Indonesia di PBB, L.N. Palar segera mematahkan argumentasi pihak Belanda yang terus-menerus meyakinkan publik dunia bahwa yang disebut “Negara Indonesia” itu sesungguhnya tidak ada, yang ada hanya segelintir ekstremis di sebagian Jawa dan Sumatera.

Berita bertajuk “pemberontakan besar di Minahasa Sulawesi Utara” yang didengar Palar dari Radio San Francisco USA dan BBC London itu langsung membungkam Kleffen, Duta Kerajaan Belanda di PBB.

[]