Teuku Neta Firdaus dan Jokowi
Direktur Eksekutif The Jokowi Center, Teuku Neta Firdaus.
Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia

Jakarta, Redaksikota.com – Direktur Eksekutif The Jokowi Center, Teuku Neta Firdaus mengapresiasi komitmen Pemerintah Uni Emirat Arab (UEA) yang akan menggelontorkan investasi US$ 22,8 miliar (Rp 319,2 triliun) di Indonesia.

Melalui Sovereign Welth Fund bersama Masayoshi dari Softbank (Jepang), dan International Development Finance Corporatio (IDFC) Amerika Serikat, investasi terbesar dalam sejarah Indonesia akan ditindaklanjuti.

Mengutip pernyataan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan menjelaskan UEA ingin berkontribusi di Indonesia karena memiliki penduduk Islam terbanyak.

“Kita sambut dengan aksi nyata keinginan UEA berinvestasi dalam pembangunan Ibu Kota Baru di Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur dan pembangunan properti di Aceh,” ungkap Teuku Neta, Selasa (14/1/2020).

Teuku Neta menuturkan bahws investasi dari UEA ini disambut gembira oleh seluruh rakyat Indonesia. Dia meminta agar realisasi dari komitmen ini bisa dilaksanakan dalam waktu secepatnya. Demikian juga, keinginan UEA untuk investasi bidang properti di Aceh, maka Pemerintah Aceh harus bergerak cepat menjemput kongkrit kebutuhan UEA.

“Kita yakin persetujuan investasi yang disampaikan Putra Mahkota UEA, Pangeran Sheikh Mohammed Bin Zayed akan direalisasikan. Pasalnya, selama ini sudah banyak “angin surga” yang menyatakan akan investasi di Aceh namun hasilnya nol,” jelas Neta.

Teuku Neta mengucapkan terima kasih yang setinggi-tingginya kepada Presiden Joko Widodo yang segera memerintahkan minggu depan Gubernur Aceh dan tokoh-tokoh untuk bicara perihal persyaratan UEA.

Direktur Eksekutif The Jokowi Center mengingatkan Pemerintah Aceh untuk segera mengelar “karpet merah” kepada UEA dan menyodorkan yang dibutuhkan oleh investor dari UEA. Salah satu alasan UEA ingin berinvestasi di Aceh karena adik Putra Mahkota UEA Sheikh Hamid menyebut jarak terbang dari Abu Dhabi ke Aceh hanya 5 jam.

“Dapat dipastikan bahwa Investasi dari UEA akan diterima dengan lapang dada oleh rakyat Aceh, tidak ada kritik-kritik konyol yang bisa menghambat investasi tersebut,” ungkapnya.

Teuku Neta membuka kilas balik perihal angin surga dari investor yang berjanji akan investasi di Aceh namun tidak ada realisasinya. Sekadar mengingatkan, sebelumnya ada pengusaha Arab Saudi, Syaikh Saleh Abdullah Al Rajhi menjajaki peluang investasi membuka rumah sakit khusus mata untuk mengobati masyarakat Aceh yang menderita katarak dan penyakit mata lainnya sehingga bisa kembali membaca al-Quran.

Ada pula negara lain yang rencana ingin investasi di Aceh yakni Turki melalui Hitai perusahaan pengembang energi panas bumi Seulawah Aceh Besar dan Aceh Tengah serta Aksa yang ingin membangun Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) di Lhokseumawe tidak ada tindaklanjut. Selanjutnya pengembang Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) asal China.

“Tiga perusahaan itu membawa investasi sebesar Rp 15 triliun, janji investasi yang mengecewakan, menyikapi hal tersebut upayakan kita untuk mendongkrak perekonomian di Aceh adalah berfikir positif, mendukung pemerintah dan berdo’a,” pinta Teuku Neta.