Beranda Headline Yusril Ogah Dukung Prabowo Karena Sandiaga Tak Mampu Jawab Pertanyaan Ini

Yusril Ogah Dukung Prabowo Karena Sandiaga Tak Mampu Jawab Pertanyaan Ini

WIB
469 views
| Estimasi Baca: 2 minutes

Redaksikota.com – Serangan demi serangan narasi saat ini masih dilontarkan sebagian kalangan kepada personal Yusril Ihza Mahendera. Apalagi pasca Ketua Umum Partai Bulan Bintang (PBB) tersebut menerima tawaran Joko Widodo melalui Erick Thorir untuk menjadi kuasa hukum Jokowi-Maruf di Pilpres 2019.

Bahkan ada yang menilai Yusril sebagai munafikun dan penghianat umat Islam karena mendukung Petahana dalam kontestasi politik lima tahunan itu, hingga memaksa Yusril mundur dari jabatannya sebagai Ketum PBB jika masih tetap bersikeras dengan sikapnya itu sebagai lawyer Jokowi-Maruf.

Menyikapi hal itu, pengacara kondang yang juga sebagai pakar hukum tata negara tersebut memberikan jawabannya secara gamblang mengapa dirinya tidak menaruh pilihan politiknya secara gamlang kepada Prabowo-Sandi.

Disampaikan dalam sebuah wawancara ekslusif dengan Detikcom yang diunggah di situs Youtube, Yusril memang sempat diajak untuk bergabung dalam koalisi pemenangan Prabowo-Sandi bahkan sampai ditawarkan sebagai ketua tim pemenangan oleh Sandiaga Salahuddin Uno dan Ferry Juliantono.

“Taggal 30 Agustus datanglah Pak Sandiaga Uno dan Pak Ferry Juliantono ke rumah saya. Dan saya tanyakan apa maksudnya, ya saya mau mengajak pak Yusril gabung dan memberikan dukungan, Pak Yusril jadi timsesnya Pak Prabowo-Sandi,” kata Yusril menceritakan pertemuan tersebut.

Mendapati tawaran itu, Yusril pun mengajukan pertanyaan yang justru dianggap sulit untuk dijawab baik oleh Sandiaga Uno maupun Ferry Juliantono. Tentang feedback yang bisa diberikan Prabowo dan Sandi kepada PBB sebagai salah satu partai peserta pemilu di Pileg 2019. Terlebih lagi kata Yusril, pasangan Capres-Cawapres penantang Jokowi adalah satu paket yakni sama-sama Gerindra.

“PBB kan sudah pernah bantu Pak Prabowo di 2014, Pak Sandi juga sudah pernah kita bantu di Pilgub DKI. Kita jangan sudut diminta bantuan, kita mau tanya Pak Prabowo bisa bantu kita apa?,” tanya Yusril kepada Sandi dan Ferry saat itu.

Pertanyaan realistis tersebut dikatakan Yusril juga berdampak pada kualitas kerja PBB sebagai partai yang notabane tidak sebesar partai Gerindra itu. Yakni jika PBB tegas dukung Prabowo sementara partai yang terkenal sebagai partai Islam tersebut akan all out mengkampanyekan Prabowo-Sandi di seluruh daerah. Sayangnya, nasib caleg PBB termasuk status Yusril yang juga sebagai Caleg pun masih dianggap abu-abu.

“Kita ini pemilu serentak, saya diminta untuk menjadi timses Pak Sandi dan Pak Prabowo, andaikata saya terima, saya akan all out kampanye. Tapi jangan lupa saya Caleg di Jakarta Utara, saya gak bisa urusin dapil saya. Begitu juga orang PBB lainnya akan kampanye Pak Prabowo tapi dia juga caleg di situ,” terang Yusril.

“Ini calon Presidennya Gerindra, Wapresnya Gerindra, okelah tapi pemilunya serentak, pada hari yang sama saya kerahkan semua orang PBB coblos Pak Sandi dan Pak Prabowo, tapi di detik itu juga saya di Jakarta Utara saya juga digergaji orang Gerindra, caleg PBB dihabisi, caleg PAN dihabisi, kita saling ‘bunuh-membunuh’ di konstituensi,” sambungnya.

Maka dari itu, Yusril pun meminta solusi terbaik agar potensi buruk bagi koalisi yang akan dibangun kala itu tidak sampai seperti apa yang dikhawatirkannya. Yang seharusnya koalisi bisa terbentuk karena azas manfaat bersama justru merugikan sebagian pihak.

“Jangan sampai begini, karena rakyat akan berfikir calon Presidennya siapa, pak Prabowo, partainya apa, Gerindra, dicoblos Prabowo dicoblos Gerindra. Kami yang all out memgkampanyekan Anda, bisa habis,” terangnya lagi.

Mendapati pertanyaan itu, Yusril mengatakan bahwa baik Ferry maupun Sandiaga Uno kaget dan akan membahasnya lebih lanjut dengan Prabowo Subianto. Sayangnya, Yusril menegaskan bahwa sejak usai pertemuan tersebut sampai saat ini tidak ada jawaban apapun baik dari Sandi atau Ferry maupun dari pihak Gerindra sendiri.

“Jadi gimana pak?. Ya nantilah saya akan ke Pak Prabowo biar dijawab. Saya kasih waktu 2 minggu ya, jangan lama-lama saya bilang. Sampai hari ini tidak pernah ada jawaban,” tegasnya.

(red)