Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Foto: Istimewa.
Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia

Jakarta, Redaksikota.com – Terkait kondisi sikap Partai Demokrasi Indonesia (PDI – Perjuangan) di Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT) yang berkoalisi dengan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) bukan hanya mempertontonkan politik lawakan tapi juga menunjukkan Partai Demokrasi Indonesia (PDI – Perjuangan) sebagai Partai yg tidak konsisten dalam menjalankan serta menjaga ideologi partainya. Ujar, Direktur Etos Institute, Iskandar Syah, Senin, (10/08/2020)

Beberapa pekan terakhir, ada pernyataan dari Djarot Saiful Hidayat mengatakan tidak mendukung calon kepala daerah yang berkinerja buruk buat saya cuma pencitraan, banyak calon-calon yg diusung jg didukung PDI – Perjuangan yang punya catatan buruk, tak perlu saya sebutkan satu persatu. Tutur Iskandar saat dihubungi via pesan elektroniknya

Sampai hari ini saya melihat masyarakat sudah tidak bergairah lagi dengan partai-partai politik, terutama partai politik berowner, maaf saya harus katakan itu, karena memang itu adanya. Katanya

Ia (Iskanda) menegaskan bahwasanya, dirinya melihat partai politik hari ini tidak memberikan pembelajaran politik yang baik kepada masyarakat, tapi, justru sebaliknya.

Iskandar pun khawatir kalau rakyat sudah benar-benar tidak percaya lagi dengan partai politik, maka rakyatlah yg akan mengambil peran penuh terhadap kondisi politik ke depan.

“Rakyat sudah muak, sudah kecewa, rakyat hanya dijadikan objek penderita di saat moment-moment tertentu, seperti pileg, pilpres atau pilkada, jadi buat saya pernyataan mas Djarot terlalu berlebihan dan terkesan pencitraan.”

Selain itu, Iskandar juga mengatakan bahwa, terkait peran anak muda dalam kontalasi politik negeri ini perlu diapresiasi, sudah yang tua-tua mundur.

Penyakit anak bangsa ini begitu jadi pejabat suduh ujur, khufur gak mundur-mundur, banyak meremehkan potensi anak muda adalah kesalahan fatal, apalagi anak muda ini tidak ada korelasi nya dengan kekuasaan, bukan anak pejabat atau mantu pejabat yang mendompleng nama besar bapak atau mertuanya. Tukasnya.