Yusril
Ketua Umum DPP PBB, Yusril Ihza Mahendra. [foto : Redaksikota]
Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia

Redaksikota.com – Partai politik peserta Pemilu 2019 telah menyatakan sikap untuk mendukung salah satu dari dua pasangan calon presiden dan wakil presiden yang akan bertarung di Pilpres 2019 mendatang. Baik itu partai koalisi petahana atau koalisi oposisi.

Terdaftar sebanyak 16 parpol peserta pemilu yang tercantum, sebanyak 9 partai yang menyatakan untuk mendukung pasangan capres-cawapres Joko Widodo (Jokowi)-Ma’ruf Amin. Mereka adalah PDIP, PKB, Partai Golkar, Partai Nasdem, PPP, Partai Hanura, Perindo, PKPI dan PSI.

Lima parpol lainnya, yaitu Gerinda, PKS, PAN, Demokrat, dan Partai Berkarya, mendukung pasangan capres-cawapres dari koalisi oposisi yakni Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Sementara dua partai tersisa, yakni PBB dan Partai Garuda, memilih netral atau tidak menyatakan dukungan kepada capres-cawapres di Pilpres 2019.

Menurut Ketua Umum PBB Yusril Ihza Mahendra, alasan partainya tidak memberikan dukungan kepada salah satu dari dua pasangan capres-cawapres itu, karena kubu Jokowi maupun Prabowo tidak mengajak PBB untuk berkoalisi.

“Baik Jokowi maupun Prabowo tidak pernah mengajak PBB untuk mendukung mereka. Kalau mereka sendiri tidak pernah mengajak kita untuk mendukung mereka, untuk apa kita capek-capek mendukung salah satu dari mereka,” kata Yusril dalam keterangan tertulisnya, Jumat (10/8/2018).

“Kalau orang lain menganggap kita tidak penting, janganlah kita GR (percaya diri) merasa diri kita penting. Kita tidak perlu menjadi seperti orang menderita sakit jiwa merasa diri kita penting dan besar (megalomania), padahal kenyataannya kita tidak seperti itu,” ucap dia.

Pakar hukum tata negara ini mengaku wajar jika dua kubu capres-capres itu tidak mengajak PBB untuk berkoalisi, lantaran partainya tidak memiliki kursi di DPR. Bahkan ia menduga hasil survei soal eksistensi PBB di Pileg 2019, menjadi penyebab partainya tak diajak berkoalisi.

“Mereka tidak mengajak PBB itu wajar saja, karena kita tidak punya kursi di DPR sekarang. Untuk Pemilu 2019 pun, menurut hitungan lembaga-lembaga survei PBB diduga takkan lolos presidential threshold 4 persen. Karena itu, kedua pasangan capres-cawapres tidak memperhitungkan kita,” ungkapnya.

Hal inilah yang ditegaskan Yusril membuat partainya memilih netral di Pilpres 2019, dan ingin fokus ke Pileg, agar partainya bisa lolos ambang batas parlemen 4 persen.

“Seluruh kader saya minta fokus ke Pileg agar PBB memperoleh suara di atas empat persen dan kembali eksis di DPR,” jelas mantan Mensesneg itu.