Teuku Neta Firdaus
Direktur The Jokowi Center, Teuku Neta Firdaus.
Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia

Jakarta, Redaksikota.com – Direktur Eksekutif The Jokowi Center Teuku Neta Firdaus mengapresiasi pemerintah yang telah melakukan ekstradisi Maria Pauline Lumowa ke Jakarta padas Kamis (9/7/2020).

Maria ditangkap oleh NCB Interpol Serbia di Bandara Internasional Nikolas Tesla, Serbia pada 16 Juni 2019. Kemudian Direktur Jenderal Administrasi Hukum Umum Kemenkumham mengirim surat permintaan ekstradisi pada 31 Juli 2019 dan 3 September 2019.

Buronan kelas kakap selama 17 tahun bisa dipulangkan karena pemerintah memiliki sinergi yang kuat dan komitmen memburu pembobol BNI Rp 1,7 triliun dari Serbia.

“Keberhasilan memulangkan koruptor ini karena kerja sama yang kuat dan hebat berbagai instansi dan ini harus dilanjutkan untuk memulangkan buronan koruptor lainnya,” pinta Teuku neta, Jumat (10/7/2020) di Jakarta.

Teuku Neta menyatakan setelah Maria diekstradisi, masih ada segudang koruptor lainnya yang harus mempertanggungjawabkan perbuatan haramnya dengan merugikan bangsa Indonesia yang menjadi tanggungan rakyat Indonesia dan pendertitaan Ibu Pertiwi.

Teuku Neta menjelaskan bahwa negara masih ada kewajiban memburu koruptor lain seperti Joko Tjandra dalam kasus tagih utang (cessie) Bank Bali sejak 2009. Buronan lainnya seperti korupsi Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) Rp 4,58 triliun Sjamsul Nursalim dan istrinya Itjih Nursalim yang menjadi buron sejak 2019.

“Hasil korupsi hingga triliunan itu harus disita dan dikembalikan ke negara, untuk mewujudkan kesejahteraan dan keadilan hukum bagi seluruh rakyat Indonesia,” ungkap Teuku Neta.

Pengiat anti korupsi ini meminta jajaran kabinet menteri harus sering melakukan diplomasi antar negara untuk memudahkan diekstradisi koruptor lainnya yang masih bersembunyi di luar negeri. melalui pendekatan dan diplomasi tingkat tinggi, maka para koruptor bisa diadili di Tanah Air dan mengembalikan kerugian negara.

Sebelumnya di era Presiden Joko Widodo juga berhasil memulangkan koruptor BLBI Samadikun Hartono yang menyebabkan kerugian negara Rp 87 miliar. Samadikun ditangkap di Shanghai, Tiongkok pada 17 April 2016 dan diekstradisi oleh Indonesia.

Demikian juga mantan Bendahara Umum Partai Demokrat, Nazaruddin terpidana korupsi wisma atlit Hambalang pada 2011 dengan vonis 7 tahun penjara dan denda Rp 200 juta. Nazaruddin ditangkap di Cartagena, Kolomboa pada 7 Agustus 2011 kemudian diekstradisi ke Indonesia.

“Kita berharap Caleg PDIP Harun Masiku segera ditangkap, sehingga tidak ada kecurigaan publik kepada pemerintah, seolah-olah hukum tebang pilih, padahal tidak demikian, jangan mengorbankan perasaan semua pihak sebaiknya aparat hukum membuktikan bahwa hukum tidsk tajam kebawah tumpul keatas, fiat justitia ruat caelum, hendaklah keadilan ditegakkan, walaupun langit akan runtuh,” tutup Teuku Neta.