Luhut
Menko Kemaritiman dan Sumber Daya, Luhut Binsar Pandjaitan. [*istimewa]
Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia

Redaksiota – Ketua Bidang Pertanian dan Kelautan/Kemaritiman Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI), Mahyudin Rumata menilai upaya Menko Kemaritiman yang baru, Luhut Binsar Panjaitan untuk melakukan pengkajian ulang pencabutan Reklamasi Pulau G di teluk Jakarta sebagai bentuk semakin memperkeruh susasana.

Ditambkan lagi, Mahyudin juga mempertanyakan usulan Luhut untuk melakukan revisi Perpres nomor 44 tahun 2016 tentang Pelarangan Asing terhadap usaha perikanan tangkap di Indonesia. Beberapa sikap tersebut dinilai Mahyudin sebagai cerminan nasionalisme palsu belaka dari seorang purnawirawan jenderal TNI dan pejabat pemerintahan.

“Saya heran dengan Pak Menko Maritim ini, bukannya fokus menyelesaikan polemik reklamasi teluk jakarta yang ditinggal pendahulunya, justru membuat wacana baru dengan memberi ruang penguasaan asing atas ikan di laut kita,” kata Mahyudin keterangan tertulisnya kepada Redaksikota, Senin (8/8/2016).

“Padahal seingat saya, Pak menko ini selama menjabat Menkopolhukam, beliau gencar kampanye pencurian ikan oleh asing di Indonesia. Loh, sekarang kebalik. Ada apa? Pak Luhut jangan mengumbar nasionalisme palsu dong!,” sambungnya.

Ia menilai jika sejauh ini memang banyak sekali upaya asing untuk mencoba mengeruk kekayaan alam laut Indonesia, terlihat juga dari beberapa maraknya pencurian ikan di laut Indonesia oleh nelayan berbendera negara lain.

Lebih lanjut, Mahyudin pun mengapresiasi dan mendorong sikap tegas Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti untuk mengundurkan diri jika tetap Menko Luhut tetap pada sikapnya yang dianggapnya pro pada kepentingan asing dan investor itu.

“Kami mendukung Ibu Susi atas sikapnya yang mundur jika asing di beri ruang menguasai sektor perikanan tangkap kita,” pungkasnya. (rey/mib)