karyono wibowo
Karyono Wibowo. [istimewa]
Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia

Redaksikota.com – Pengamat politik dari Indonesia Public Institute (IPI) Karyono Wibowo menilai bahwa salah satu persoalan yang dialami oleh Indonesia adalah masuknya ideologi transnasional yang coba terus mengambil tempat agar dapat menegakkan ideologi mereka di Indonesia. Salah satunya adalah ideologi Khilafah yang sempat digaungkan oleh ormas Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).

Apalagi dalam gerakannya, HTI acap kali menyerukan penegakan Syariat Islam sebagai dasar hukum di Indonesia sekaligus menegakkan sistem pemerintahan berbasis Khilafah dengan serta merta meninggalkan paham demokrasi dan ideologi Pancasila yang sudah final menjadi falsafah bangsa dan negara Indonesia.

Jika melihat dari persoalan tersebut, munculnya beberapa nama tokoh intelijen dalam wacana bursa Cawapres 2019 menjadi menarik diperhatikan. Beberapa nama yang muncul adalah mantan Wakabin As’ad Said Ali dan Kepala BIN Budi Gunawan. Jika dipandang layak atau tidaknya tokoh intelijen Indonesia itu maju sebagai Cawapres Jokowi, Karyono berpandangan sangat layak.

“Tokoh intelijen apakah layak jadi cawapres, ya layak lah seperti pak BG dan pak As’ad Ali. Apalagi ada ideologi transnasional sedang meneror dunia termasuk Indonesia. jadi dibutuhkan pemimpin yang berlaterbelakang intelijen,” kata Karyono dalam sebuah diskusi yang digelar oleh Center of Indonesian Electin (CIE) di uP2Yu Resto and Cafe, Cikini, Jakarta Pusat, Rabu (6/6/2018).

Munculnya dua nama tokoh intelijen tersebut dikatakan Karyono perlu diapresiasi. Apalagi kedua nama tersebut bisa menjadi opsi tersendiri bagi pandangan masyarakat yang bisa saja jenuh dengan sosok dari Parpol. Dan jika melihat dari salah satu contoh, Karyono memandang Rusia bisa jadi salah satu rujukan pandangan bagaimana negara bekas pecahan Uni Soviet tersebut berjakan saat ini.

“Saya kasih contoh, Rusia sekarang maju karena dipimpin oleh mantan direktur intelijen Komitet Gosudarstvennoy Bezopasnosti (KGB) namanya Vladimir Putin. Rusia bangkit lagi seperri di era kejayaan Uni Soviet. (Jadi) latar belakang intelijen itu justru lebih stabil seperti Rusia,” tuturnya.

As’ad Ali, Tokoh Intelijen Sekaligus Tokoh NU

Kemudian jika dilihat dari sosok Intelijen Negara tersebut, Karyono memandang As’ad Said Ali menjadi salah satu sosok yang cukup bisa diperhitungkan Jokowi dalam memilih Cawapres 2019 mendatang. Alasan yang mendasar jika melihat dari kontekstual tersebut, Karyono mengatakan As’ad Ali memiliki basis masa yang cukup baik dilihat dari latar belakangnya sebagai salah satu tokoh besar dari Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

“Ingat, Pak As’ad Ali ini bukan hanya tokoh intelijen saja lho, beliau ini juga tokoh besar NU,” terang Karyono.

Baginya, jika melihat dari sudah mepetnya masa pendaftaran Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden 2019, keberadaan As’ad Ali bisa menjadi pemicu naiknya elektabilitas Jokowi di bursa Pilpres.

“Warga NU pasti senang-senang saja kalau ada tokoh dari organisasi mereka yang maju sebagai Cawapres Jokowi,” tambahnya.

Selanjutnya, Karyono Wibowo juga melihat majunya As’ad Ali sebagai Cawapres Jokowi di Pilpres 2019 tidak akan membuat NU gaduh. Hal ini lantaran Karyono memandang pada momentum Pilpres 2004 silam, dimana ada dua tokoh besar NU yang tiba-tiba maju dalam bursa Cawapres. Mereka adalah almarhum KH Hasyim Muzadi yang berpasangan dengan Megawati Soekarnoputri, serta ada KH Sholahuddin Wahid yang notabane adalah cucu dari pendiri Nahdlatul Ulama KH Hasyim Asyari yang saat itu maju sebagai Cawapres Wiranto.

Munculnya dua nama tokoh besar NU tersebut pun dikatakan Karyono merupakan fenomena yang tidak pernah disangka sebelumnya. Pun demikian, majunya dua tokoh besar tersebut tidak membuat NU bermasalah secara organisasi maupun kekeluargaan ideologis di kalangan masyarakatnya (warga Nahdliyin -red).

“Yang penting majunya tokoh NU itu tidak membuat NU terpecah-belah,” tutup Karyono.

Sekilas tentang As’ad Said Ali

As'ad Said Ali
As’ad Said Ali. [sumber : NU Online]
As’ad Said Ali lahir di Kudus, Jawa Tengah, pada 19 Desember 1949. Alumnus Pondok Pesantren Al Munawwir Krapyak Yogyakarta dan Alumni Hubungan Internasional UGM ini masuk ke BAKIN (saat ini BIN/ Badan Intelejen Negara) sejak tahun 1982-1999.

Sejak 2001, beliau menjabat sebagai Wakil Kepala BIN selama 9 tahun era Presiden Abdurahman Wahid, Presiden Megawati, dan Presiden SBY. Beliau sempat bertugas lama di Timur Tengah seperti Arab Saudi, Yordan, Syuriah, Lebanon, Eropa dan Amerika serikat.

Jejak karir As’ad Said Ali Aktif di BANOM NU seperti IPNU, PMII dan GP Ansor. Asad diminta oleh para Rais Aam, serta ulama sepuh NU mendampingi Said Agil Siraj sebagai Wakil Ketua Umum PBNU 2010-2015.

Mendapat Gelar Doktor Horonis causa dari Fakultas Hukum Universitas Diponegoro (UNDIP) Semarang, dan sekarang diberi kewenangan sebagai Penanggung jawab kaderisasi PBNU, serta mengepalai berbagai program perdamaian dunia seperti Afganistan, Cyprus dan lain-lain.