Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia

Redaksikota – Dinasti Politik acapkali menghadirkan kondisi ketertinggalan dan kesenjangan di berbagai daerah. Kasus politik dinasti yang terjadi di Banten dan daerah lainnya bisa menjadi pelajaran untuk sejarah politik dinasti di Indonesia. Kali ini fenomena itu muncul dan berkembang di Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Selatan, Provinsi Sumatera Selatan.

Kritik itu muncul dari putra daerah OKU Selatan, Riyan Hidayat. Saat dihubungi, Riyan mengungkapkan bahwa bukan dinasti politik yang menjadi masalah besarnya, melainkan dampak buruknya.

“Kita tidak mempermasalahkan dinastinya, tetapi dampak buruknya. Ini persoalan sejauh mana OKU Selatan bisa berkembang dan mampu menjadi daerah yang maju.” kata Riyan kepada wartawan, Selasa (26/9/2017).

Riyan yang juga merupakan Presiden Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah ini mengatakan, bahwa ketertinggalan OKU Selatan dalam banyak hal disebabkan oleh buruknya hasil komunikasi politik yang terjalin.

“Dalam politik, hubungan kekerabatan itu sangat dekat dengan nepotisme. Mengangkat orang yang berdasarkan hubungan dekat bukan karena kemampuan dan komitmen yang kuat. Ini termplikasi dari buruknya komunikasi politik yang terjalin.” ungkap Riyan yang juga Mahasiswa Ilmu Politik ini.

Pengurus Pusat Kesatuan Angkatan Muda Sriwijaya ini berharap, agar OKU Selatan di bawah kepemimpinan Bupati hari ini mampu mengejar ketertinggalan dari daerah lain yang sudah relatif maju.

“Banyak ketertinggalan di OKU Selatan. Masalah pembangunan infrastruktur, akses pendidikan, pelayanan dan fasilitas kesehatan, angka kriminalitas yang tinggi, serta konsolidasi demokrasi yang belum berjalan secara baik dan lain sebagainya. Dan tentu kita berharap kepemimpinan bapak Popo Ali di OKU Selatan ini mampu mengejar ketertinggalan dan mencontoh daerah lain yang relatif sudah maju,” ungkapnya.