Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia

SURABAYA, Redaksikota.com-Pasca rentetan aksi peledak bom oleh kelompok teroris di Surabaya pada tanggal 13 Mei 2018, KontraS telah membentuk satuan tugas untuk melakukan pemantauan lapangan.

Melalui relesnya yang diterima Redaksikota.com, Rabu (23/5/2018), Fatkhul Khoir, Koordinator Badan Pekerja KontraS Surabaya berharap beberapa temuan di lapangan ini sangat penting untuk diketahui publik dan dengan segera mendapatkan respon dari pemerintah terkait.

Beberapa temuan tersebut adalah Komunitas gereja melakukan upaya-upaya pengobatan awal secara swadaya. Walaupun telah ada layanan pengobatan bagi seluruh korban luka, akan tetapi, pemerintah tidak menyediakan layanan trauma healing bagi korban dan Pemerintah belum memberikan respon atas kerugian materiil yang dialami korban.

KontraS juga mencata setidaknya ada 30 kendaraan milik korban yang terdiri dari 28 unit motor, 1 unit mobil, 1 unit becak telah rusak dan hancur, serta tak bisa dipergunakan.  Sebagian besar kendaraan tersebut adalah sarana tranaportasi yang sehari-hari dipergunakan untuk bekerja bagi pemiliknya, dan akibat kerusakan ini, sejumlah korban tidak dapat menjalankan pekerjaannya.

Temuan lain bahwa sampai dengan saat laporan ini dibuat,  KontraS menilai pemerintah belum memberikan penjelasan kepada korban dan keluarganya tentang upaya pemulihan bagi mereka dan belum melakukan pendataan terkait estimasi kerugian yang diderita masing-masing korban.

Selain itu, jumlah total korban yang meninggal dunia diluar pelaku pengemboman yang di catat KontraS ada sebanyak 13  orang, 6 orang korban dari lokasi pengeboman di Gereja Santa Maria Tak Bercela di Jl. Ngagel Madya dan 7 orang korban dari  lokasi pengeboman di  Gereja Pantekosta di Jl. Arjuno.

Oleh karena itu, berdasarkan situasi di lapangan tersebut, KontraS mendesak kepada pemerintah segera mengkoordinasikan upaya yang lebih partisipatif dalam merumuskan langkah-langkah pemulihan korban; Upaya partisipatif ini dengan cara melibatkan dialog bersama komunitas pendamping korban, dan keluarga korban.

Selain itu, Kontras meminta kepada Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban untuk segera turun kelapangan dan mengupayakan pemberian bantuan rehabilitasi psikososial dan psikologis kepada korban.