Beranda News Daerah Tak Ingin Rezim Militeristik Kembali, Warga Gelar Mimbar Bebas

Tak Ingin Rezim Militeristik Kembali, Warga Gelar Mimbar Bebas

WIB
307 views
| Estimasi Baca: 2 minutes

SOLO, Redaksikota.com – Ratusan masyarakat dan elemen Mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa dan Masyarakat Jawa Tengah menggelar aksi damai dan mimbar bebas di kawasan Patung Slamet Riyadi, Jl. Brigjend Slamet Riyadi, Kampung Baru, Pasar Kliwon, Kota Surakarta, Jawa Tengah.

Dalam aksinya itu, mereka menyampaikan protesnya terhadap gaya bercanda Capres nomor urut 02 Prabowo Subianto yang sempat dinilai masyarakat memiliki unsur penghinaan dan merendahkan martabat warga Boyolali.

“Kami tak ingin memiliki pemimpin yang suka menyinggung dan merendahkan harkat dan martabat masyarakat termasuk Boyolali. Kami sebagai sesama warga Jawa Tengah merasa gaya bercanda ‘tampang boyolali’ tidak pantas disampaikan, termasuk oleh Prabowo,” kata koordinator aksi, Agus Yusuf di tengah-tengah orasinya, Senin (19/11/2018).

Meskipun Prabowo sudah menyampaikan permohonan maafnya, mereka tetap ingin agar Ketum Partai Gerindra tersebut menyampaikan permohonan maafny secara resmi dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi di kemudian hari.

“Kami minta Prabowo minta maaf secara remi dan terbuka kepada masyarakat Indonesia khususnya warga Boyolali, serta berjanji tidak akan mengulangi perbutannya lagi,” tegasnya.

Kemudian kepada Cawapres Sandiaga Salahuddin Uno, mereka juga memberikan peringatan agar tidak mengulangi lagi perbuatannya yang dianggap tidak sopan dan melecehkan marwah kiyai NU.

“Tanpa harus diminta keluarga Mbah Bisri (KH Bisri Syansuri -red), Anda seharusnya minta maaf. Itu perbuatan yang tidak menghargai marwah ulama khususnya warga Nahdliyyin,” ujarnya.

Lebih lanjut, Agus juga menyinggung masalah semangat salah satu anak mendiang Soeharto, Titiek Soeharto yang menegaskan bahwa upaya pemenangan Prabowo-Sandi adalah bagian dari rencana pengembalian pola pemerintahan orde baru.

“Ingat kata Mbak Titiek, pemenangan Prabowo adalah pemenangan pemerintah Soeharto, pemerintahan ala orde baru,” pungkasnya.

Ia menyerukan bahwa artinya pemerintahan ala orba yang terkenal dengan militeristik dan otoritariannya akan kembali dirasakan masyarakat Indonesia.

“Kita tak ingin Indonesia dipimpin gaya Soeharto, militeristik, otoriter dan banyak sekali korupsi. Bagaimana kita tdk bisa bersuara dan mengkritisi pemerintahan kecuali kita siap ‘dihilangkan’,” tukasnya.

Aksi damai dan mimbar bebas itu terpantau berjalan dengan aman dan tertib. Bagkan dalam aksinya, masyarakat juga sempat melakukan treatrikal adat jawa sebagai bentuk simbolis pengusiran aura negatif, seperti rasa saling permusuhan dan sebar hoax hingga banyaknya fitnah antar sesama bangsa Indonesia. (***)