Warga Rusunawa
Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia

Redaksikota – Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Pusat Barisan Insan Muda (DPP BIMA), Syarief Hidayatulloh menilai upaya pengusiran yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tersebut merupakan bentuk arogansi pemerintah. Padahal menurutnya, penempatan masyarakat DKI Jakarta di Rusunawa tersebut adalah program yang digarap oleh pemerintahan Ahok-Djarot saat itu ketika melakukan penggusuran rumah warga.

“(Rusunawa) itu kan hasil kerjanya Ahok-Djarot yang main gusur tidak memperhitungkan terlebih dahulu penggusuranya ini lah. Akibat sok mampu menyelesaikan permasalahan Jakarta, akan tetapi dia sekarang malah kebentur dengan hasil kerjanya sendiri,” kata Syarief kepada wartawan hari ini melalui sambungan Whatsapp, Senin (14/8/2017).

Selain itu, program pemindahan masyarakat Jakarta yang sebelumnya memiliki rumah di bantaran kali ke rusunawa memiliki catatan yang buruk. Menurut Syarief, program normalisasi sungai yang digaungkan Ahok ketika masih menjabat sebagai Gubernur yang saat ini dikendalikan oleh Djarot tidak berjalan.

“Kalinya tidak pernah di sentuh, hanya yang terlihat di masyarakat dan media saja agar dinilai berhasil, padahal Ahok-Djarot gagal total dalam memimpin Jakarta yang sampai sekarang masih mangkrak pekerjaan tersebut. Selain (sungai) Krukut dan (sungai) Pejaten Timur juga kali di Tegal Parang Pondok Jaya, hingga kini belum tersesaikan,” tukasnya.

“Masyarakat sudah dibuat bingung, padahal anggaranya tahun ini masih ada untuk menyelesaikan kali tersebut,” imbuhnya.

Melihat itu, Syarief menilai jika gebrakan yang sebelumnya garang disampaikan oleh Ahok Djarot ketika masih menjabat sebagai pasangan Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta tersebut telah gagal total.

Sikap Syarief ini menyikapi komentar Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat yang memberikan komentar pedas terkait dengan penunggakan pembayaran uang sewa Rusun.

“Masa kewajiban membayar sewa untuk merawat rumah susun enggak mampu. Beli pulsa bisa, beli rokok bisa, beli bensin bisa. Ini yang jadi pertanyaan kita. Kan bisa uangnya ditabung, setelah terkumpul bisa dibayarkan untuk sewa rusun,” kata Djarot di Balaikota, Senin (14/8/2017).

Bahkan bagi penunggak, ia meminta agar rela meninggalkan rusunawa tersebut. Apalagi bagi Djarot, sampai saat ini masih banyak masyarakat yang tertarik untuk mengambil rusun tersebut.

“Masih banyak yang berminat, masih banyak yang ingin masuk ke rusun. Karena banyak yang antre, data kami sudah ada 11 ribuan yang antre mau masuk,” pungkasnya.