Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia

SERANG, Redaksikota.com – Tim Pengawasan Orang Asing (Pora) Kabupaten Serang mendadak melakukan inspeksi terhadap PT Kenda Rubber Indonesia (KRI) di desa Kareo, Kecamatan Jawilan.

Kegiatan yang dilakukan bersama dengan kesbangpol, Imigrasi, Dinas Satpol PP, Disnakertrans, Disdukcapil dan Polres Serang ternyata kurang mendapatkan hasil.

Sidak tersebut dilakukan untuk menyikapi adanya tuntutan warga sekitar yang telah melakukan aksi beberapa waktu lalu mengenai keberadaan tenaga kerja asing di pabrik produsen ban tersebut yang diduga ilegal.

Pantauan di lapangan, para petugas datang langsung ditemui pihak perusahaan. Pada sidak itu petugas memeriksa dokumen keimigrasian mulai dari Pasport, IMTA, Visa, Surat keberadaan Tenaga Kerja Indonesia Pendamping dan Surat Keterangan Tempat Tinggal. Para petugas pun kemudian memeriksa tiga TKA sebagai sampel.

Kepala Bagian Kesbangpol Setda Kabupaten Serang HM Sukirman mengatakan, sidaknya di PT Kenda sebagai bentuk tindak lanjut salah satu tuntutan masyarakat terkait aksi masa beberapa waktu lalu. Pada aksi tersebut, mereka menginginkan kepada pihak berwenang untuk memeriksa tenaga kerja asing yang diduga tidak sesuai dokumennya.

“Dugaannya itu visanya visit bukan kerja. Mungkin mereka (masyarakat) menganggap bahwa mereka ini illegal, mungkin kok banyak orang asing, mereka kan enggak berwenang memeriksa disini,” ujarnya saat ditemui dilokasi, Jumat (13/7/2018).

Oleh karena itu pihaknya pun turun ke lapangan bersama salah satu tim yang dibentuk oleh Bupati Serang Ratu Tatu Chasanah untuk menangani, memonitoring dan memverifikasi TKA dan orang asing.

“Kita tadi dengan tim langsung ke PT ini. Kita mengadakan verifikasi dan hasilnya bahwa disini ternyata memang ada tenaga kerja asing yang tadinya versi kita ada yang 6 ada 11, ternyata setelah dilihat ada 19. Dan memang itu semuanya dilengkapi dengan dokumen yang saya sudah bawa fotocopy dokumennya,” katanya.

Ia menjelaskan, jika memang ke 19 orang asing tersebut sudah sesuai dokumen maka artinya apa yang dikatakan oleh pihak perusahaan melalui HRD nya sudah sesuai. Secara umum mereka berasal dari dua negara yakni Taiwan dan Cina dan menempati kelas direktur serta manager.  

“Yang diperiksa Passport, IMTA, susunan keluarga yang diperiksa disdukcapil dan izin tempat tinggal. Mereka belum bisa bahasa Indonesia makanya tadi didampingi translator,” ucapnya.

Sukirman menegaskan, jika ternyata dari hasil pemeriksaan dokumen yang dibawa tidak sesuai dengan yang dikatakan oleh pihak perusahaan, maka pihak perusahaan akan bertanggung jawab.

“Kalau misalkan dia tidak lengkap nanti imigrasi yang akan menindak, kita tidak punya kewenangan untuk menindak makanya kita bawa imigrasi karena disana ada keimigrasian bagian penindakan,” katanya.

Kepala Subseksi Penindakan Imigrasi Serang, Jali mengatakan, berdasarkan hasil pemeriksaan dokumen, izin tinggal mulai dari masa berlaku dan peruntukannya sudah sesuai dan tidak ada yang berbeda. Namun jika suatu hari ditemukan jumlah TKA yang tidak sesuai, pihaknya secara tegas akan memberikan sanksi berupa deportasi.

“Nanti kiat bawa dulu yang bersangkutan dan mintai keterangan kita lihat juga izin tinggalnya apakah sesuai dengan aktivitas dia disini, kalau memang tidak sesuai ya kita deportasi,” ujarnya.

Jali menuturkan, selama ini pihaknya memang seringkali melakukan pengawasan terhadap perusahaan menyangkut keberadaan TKA. Berdasarkan hasil pengawasannya secara umum perusahaan masih tertib dalam menggunakan TKA tersebut.

“Paling banyak itu di Cikande,” katanya.

Sementara, HRD PT Kenda Rubber Indonesia (KRI) Alvia Ashari mengatakan, TKA yang ada di perusahaannya berasal dari Cina dan Taiwan. Di perusahaan tersebut, mereka menempati posisi seperti marketing director, tekhnisi mesin, produksi dan PPIC.

“Enggak ada dari luar (negeri) kalau non skill, karena rata rata enginer semua. Jadi enggak ada,” ujarnya.

Alvi menuturkan, karyawan di perusahaanya itu 74 persen berasal dari lokal Desa Kareo. Sedangkan sisanya 26 persen diambil dari Job fair, job street, pos dan email. Mereka yang 26 persen itu rata rata posisinya adalah tenaga ahli semisal translator mandarin.

“Total karyawan 661 orang dan TKA 19. Karena beberapa dari mereka belum bisa bahasa Indonesia, jadi rata rata translator untuk mereka tekhnik khusus,” katanya. (jiwa)