Teuku Neta
Teuku Neta
Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia

Jakarta, Redaksikota.com – Direktur Eksekutif The Jokowi Center Teuku Neta Firdaus menyatakan, bahwa aksi Gubernur DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan membersihkan sampah dan lumpur banjir di Kelurahan Makasar, Jakarta Timur, Minggu (5/1/2020) adalah bagian dari kepanikan semata.

Pasalnya, Anies tidak tahu harus melakukan apa setelah banjir merendam Jakarta dan sekitarnya selama berhari-hari.

“Anies sebagai gubernur itu bertindak sebagai pengambil keputusan sebelum banjir. Memastikan pompa air tidak ada yang rusak, ketersediaan solar pompa yang cuku. Aksi Anies berlumpur ria sambil foto dengan warga tidak perlu dilakukan oleh pengambil keputusan,” ungkap Teuku Neta, Selasa (7/1/2020).

Teuku Neta menjelaskan, Anies lebih siaga mengantisipasi banjir dengan memastikan pintu air siap menerima banjir kiriman, got atau saluran air berfungsi lancar dan sebagainya. Sebelum banjir, beberapa pihak sudah mengingatkan Pemerintahan DKI Jakarta perihal banjir pada akhir tahun ini. Namun Anies sibuk merayakan malam tahun baru 2020 di Bundaran Indonesia.

“Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) dua kali mengundang Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan untuk membicarakan lebih jelas mengenai naturalisasi sungai, tetapi dia tidak datang. Dalam hal yang penting, Anies wakilkan kepada stafnya,” papar Teuku Neta keheranan.

Untuk itu Teuku Neta meminta Anies tidak perlu lagi berlumpur ria ke lokasi banjir karena itu bisa dilakukan oleh pihak lain. Sebagai pejabat pengambil keputusan, warga menunggu keputusan Anies mengantisipasi banjir agar tidak terulang lagi pada 2020.

“Banjir di Jakarta rutin terjadi setiap tahun. Titik lokasi banjir dari tahun ke tahun harus semakin berkurang. Ahok mewariskan tembok penahan banjir di Kampung Melayu, apa yang akan diwariskan oleh Anies dalam mengantisipasi banjir?,” tanya Teuku Neta.

Berdasarkan data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta pada Sabtu (4/1) pukul 18.00 WIB, masih ada 54 RW yang terendam banjir dengan rincian Jakarta Utara tujuh RW, Jakarta Barat 36 RW dan Jakarta Selatan delapan RW. Untuk Jakarta Timur tiga RW. Jumlah pengungsi masih tersisa 5.184 jiwa tersebar di 25 lokasi pengungsian. Hal ini terjadi karena hujan deras sejak 31 Desember 2019 malam hingga 1 Januari 2020 pagi menyebabkan banjir di tiga provinsi yakni Jakarta, Banten dan Jawa Barat sehingga ribuan orang harus mengungsi. []