Teuku Neta
Teuku Neta
Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia

JAKARTA, Redaksikota.com – Setiap tanggal 28 Oktober, warga Indonesia menghelat peringatan Hari Sumpah Pemuda. Momen itu menyadarkan masyarakat pada momen besar penghormatan pada tiga hal kepada bangsa yakni persatuan, tanah air, dan bahasa Indonesia. Mengutip data BPS 2011, terungkap 79,5% warga masih menggunakan bahasa daerah dalam percakapan sehari-hari dan 19,9% menggunakan bahasa Indonesia.

“Salah satu anugerah terbesar bagi bangsa Indonesia yakni sejak 91 tahun lalu, tokoh warga menetapkan bahasa resmi yakni bahasa Indonesia. Padahal kala itu penutur bahasa Indonesia di Nusantara sekitar 2%, kalangan lain seperti dari Jawa yang mayoritas bisa saja menolak dengan menawarkan bahasa Jawa sebagai bahasa resmi Indonesia,” kata Direktur Eksekutif The Jokowi Center Teuku Neta Firdaus, Minggu (27/10/2019).

Teuku Neta menuturkan, Hari Sumpah Pemuda menjadi momentum persatuan pemuda. Dari kesepakatan Sumpah Pemuda yang diikrarkan pada Ahad, 28 Oktober 1928 (13 Jumadil Awal 1859 H)
perwakilan pemuda/i dari Nusantara merumuskan gagasan mencapai Indonesia merdeka. Disebutkan konsensus Sumpah Pemuda yang secara ringkas mengumumkan Satu Nusa, Satu Bangsa, dan Satu Bahasa.

Teuku Neta mengulaskan ketika tahun 1928, sudah timbul kesadaran bersama dari berbagai etnik sepakat bahasa Melayu Indonesia sebagai bahasa pemersatu. Dalam hal ini, sebut Teuku ada kerelaan dan jiwa besar dari etnik Jawa yang terbanyak memakai bahasa Jawa di Nusantara menerima tawaran bahasa Melayu Indonesia sebagai bahasa pemersatu Indonesia.

“Kita berusaha agar bahasa Melayu dan bahasa Indonesia menjadi bahasa internasional. Ada ratusan juta pemakai bahasa Indonesia dan Melayu seperti di Malaysia, Brunai Darussalam, Timor Leste dan lain-lain,” ajaknya.

Di sisi lain, Teuku mengimbau warga dapat melestarikan bahasa ibu atau bahasa daerah di rumah atau komunitas. Bangsa Indonesia patut bangga karena Indonesia sendiri menjadi negara kedua di dunia yang mempunyai bahasa terbanyak setelah Papua Nugini.

Papua Nugini memiliki jumlah bahasa hingga dua kali lipat lebih banyak ketimbang seluruh bahasa yang dipakai di Eropa. Meski jumlah bahasa mereka lebih dari 800 jenis, tiap-tiap bahasanya hanya memiliki kurang dari 1.000 orang pengguna. Bahasa resmi yang mereka gunakan disebut Tok Pisin dalam bahasa setempat.

“Indonesia memiliki 707 bahasa. Sayang, meski kaya dengan keragaman bahasa, sekitar 98 bahasa lokal terancam punah. Bahasa Indonesia sendiri memiliki akar kuat dari Bahasa Melayu,” ujar Teuku Neta.

Merujuk penelitian Badan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, jumlah bahasa daerah di Indonesia yakni 668 bahasa daerah. Dari ratusan bahasa daerah itu, 11 bahasa daerah sudah punah, empat bahasa daerah sudah kritis, 22 bahasa daerah terancam punah, dua bahasa daerah mengalami kemunduran, dan 16 bahasa daerah rentan punah.

“Bahasa-bahasa daerah sebagai kearifan lokal akan memperkokoh rasa persatuan kebangsaan Indonesia. Mari kita utamakan bahasa Indonesia, lestarikan bahasa daerah, dan kuasai bahasa asing,” pungkas Teuku. []