Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia

Organisasi pencak silat Nahdlatul Ulama Pagar Nusa mendukung sikap pemerintah melawan kelompok radikal. Sedikitnya tiga juta pesilat Pagar Nusa siap diterjunkan membela kedaulatan NKRI.

Ketua Umum Pagar Nusa Emha Nabil Haroen menegaskan sikap Pagar Nusa akan selalu berjalan seiring dengan para ulama Nahdlatul Ulama dan badan otonom lain seperti Banser dan Ansor. Oganisasi para pesilat NU ini juga menyatakan siap mengamankan Republik Indonesia dari upaya memecah belah dan paham radikal. “Sikap Pagar Nusa jelas akan melawan siapapun yang mengancam NKRI,” kata Nabil.

Dia menegaskan, saat ini sedikitnya tiga juta pesilat yang tergabung dalam organisasi Pagar Nusa telah menyatakan ikrar membela keutuhan bangsa. Mereka siap mempertaruhkan jiwa raga demi membela paham negara Pancasila dan UUD 1945 seperti amanat para ulama.  Selain tantangan dari luar, organisasi Pagar Nusa, menurut Nabil juga tengah melakukan pembenahan ke dalam. Di antaranya adalah penyusunan struktur organisasi, penataan administrasi keanggotaan, peningkatan kapasitas anggota, serta membangun program pemberdayaan ekonomi anggota.

Meski memiliki jumlah anggota cukup banyak dan tersebar di seluruh daerah, hingga kini belum ada pendataan keanggotaan dengan rapi. Karena itu, kata Nabil, sangat dimungkinkan jumlah sesungguhnya para pesilat yang berafiliasi dengan organisasi Nahdlatul Ulama ini di atas tiga juta orang.

Dalam kepengurusan, Nabil  menjelaskan, nantinya juga akan merumuskan sistem kaderisasi yang sistematis tentang pemikiran Nahdlatul Ulama kepada calon anggota. Gunanya,  agar setiap anggota Pagar Nusa tak hanya memiliki kemampuan bela diri, tapi juga memahami sikap dan pemikiran NU serta tetap hormat kepada ulama. “Sistem kaderisasi ini masih kami godok untuk memperkuat ke-NU-an anggota,” kata alumnus Pondok Pesantren Lirboyo ini.

Nabil juga menegaskan himbauan Pagar Nusa kepada masyarakat luas agar tetap bersatu dan jangan terpecah. “Kita harus sadar, bahwa Indonesia beragam etnis, bahasa, dan agama yang berbeda, yang merupakan satu kekayaan untuk disatukan menjadi bangsa yang besar dan disegani. Mari kita lawan hoax, provokasi yang memecah belah bangsa. Sikap seperti itulah yang mampu menjadi perekat persatuan dan kesatuan di tengah keberagaman di Bumi Nusantara” kata Nabil.

Pasca Pemilu 2019 masih sering terjadi saling serang, saling fitnah, dan sebar hoaks melalui media sosial (medsos) di dunia maya. Ironisnya, masyarakat tidak sadar, kondisi gaduh ini bisa dimanfaatkan kelompok-kelompok yang ingin memecah belah bangsa. “Masyarakat harus lebih dewasa menyikapi proses demokrasi lima tahunan yaitu Pemilu dan Pilpres. Berbeda pilihan itu adalah hal biasa. Jangan sampai Pemilu dan Pilpres justru membuat bangsa ini terpecah belah dan bermusuhan” tutup Nabil.