BEM SI Protes Harga Pertalite Naik dan Premium Langka

BEM SI Protes Harga Pertalite Naik dan Premium Langka

BERBAGI
BEM SI
BEM Seluruh Indonesia gelar aksi unjuk rasa tolak kenaikan BBM dan kelangkaan Premium. [istimewa]

JAKARTA, Redaksikota – Koordinator Wilayah BEM se-Jabodetabek dan Banten Aliansi dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Seluruh Indonesia, Muhammad Wildan Habibi menegaskan bahwa pihaknya sangat keberatan dengan sikap pemerintah yang menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi yakni Pertalite.

“Kenaikan BBM Ron 90 ini pertama kali terjadi pada 13 Januari 2018. Hal ini merupakan kado buruk yang diberikan oleh pemerintah kepada rakyat di awal tahun 2018,” kata Wildan dalam keterangan persnya yang diterima Redaksikota, Selasa (10/4/2018).

Ia juga mempertanyakan sikap pemerintah melalui Pertamina yang mencoba membodohi masyarakat dengan argumentasi nyelenehnya. Salah satunya adalah statemen bahwa kenaikan harga BBM di seluruh jenis disebabkan karena adanya tren kenaikan harga minyak dunia. Jika memang seperti itu, maka seharusnya ketika harga minyak dunia mengalami penurunan, seharusnya Pertamina juga menurunkan harga BBM tersebut. Namun faktanya hal itu tidak dilakukan sama sekali oleh perusahaan migas berplat merah itu.

“Pertamina mengatakan bahwa naiknya harga pertalite dikarenakan tren menanjaknya harga minyak dunia, maka apabila kita memperhatikan harga minyak dunia 4 bulan terakhir, yang berarti meliputi harga minyak dunia yang menyebabkan kenaikan harga pertalite pada 20 Januari 2018 lalu,” terang Wildan.

“Grafik harga minyak dunia pada tanggal 20 Januari 2018 memang mengalami kenaikan dari sebelumnya, namun beberapa hari kemudian harga minyak dunia turun. Hal ini tidak diikuti dengan turunnya harga pertalite yang sebelumnya telah naik Rp100 per liternya,” tambahnya.

Tidak hanya sampai di situ saja, bahkan kenaikan harga BBM yang disangkutkan dengan kenaikan harga minyak dunia lagi ternyata pola yang sama dilakukan oleh Pertamina.

“Lalu kita perhatikan pula harga minyak dunia pada 23 Maret 2018 sehingga harga pertalite naik Rp150-Rp200 per liternya. Memang ada kenaikan harga minyak dunia, namun jika diperhatikan lebih jeli lagi maka akan terlihat bahwa kenaikan harga minyak dunia pada 23 Maret 2018 ini masih lebih rendah apabila dibandingkan dengan harga minyak dunia pada 20 Januari 2018 silam,” tutur Wildan.

Dalih Premium jenis BBM bersubsidi

Sementara dalam persoalan BBM bersubsidi yang diberikan pemerintah kepada masyarakat menengah ke bawah, juga menjadi sorotan BEM SI. Baginya, ada upaya yang sistematis dilakukan pemerintah melalui perusahaan BUMN nya itu untuk memaksa masyarakat berpindah dari BBM bersubsidi ke BBM non-subsidi. Kondisi ini dikatakan Wildan lantaran semakin sulitnya BBM jenis Premium ditemukan.

“Jika dalih berikutnya adalah rakyat kecil disubsidi dengan adanya Premium (BBM Ron 88), kita semua tahu bahwa saat ini Premium sangat sulit ditemukan di seluruh SPBU yang ada di seluruh Indonesia,” kata Wildan.

“Maka mau tidak mau, suka tidak suka, masyarakat menengah ke bawah juga terpaksa beralih menggunakan Pertalite untuk memenuhi kebutuhan BBM,” tambahnya.

Pola seperti itu dikatakan Wildan merupakan strategi bisnis pemerintah untuk memaksa rakyat membeli Pertalite karena stock Premium semakin langka.

“Jika kita bandingkan, tahun 2018 pembeli Pertalite mengalami kenaikan hingga 195 persen dibandingkan 2017. Itu dikarenakan Premium masih mudah didapatkan pada tahun lalu. Langkanya Premium menjadi strategi bagi pemerintah untuk meningkatkan penjualan Pertalite dan membuat seolah-oleh masyarakat cinta akan Pertalite dan perlahan Premium akan dihapuskan di Indonesia,” jelasnya.

Melihat persoalan tersebut, Mahasiswa yang juga menjabat sebagai Ketua BEM Universitas Negeri Jakarta (UNJ) tersebut menegaskan, bahwa pihaknya menuntut kepada pemerintah pusat termasuk Pertamina untuk menurunkan harga BBM dan tidak lagi menaikkan harga salah satu kebutuhan rakyat Indonesia tersebut.

“Kami menolak dengan tegas kenaikan harga BBM yang menyengsarakan rakyat miskin dan menuntut pemerintah untuk menjamin BBM subsidi bagi masyarakat,” tegas Wildan.

Ia juga menegaskan jika pihaknya akan terus melakukan aksi unjuk rasa dan melakukan perlawanan kepada pemerintah jika tuntutan tersebut yidak tidak digubris.

“Selama segala bentuk ketidakadilan pada rakyat tetap ada, maka di situ pula gerakan mahasiswa tetap ada. Demi rakyat, bangsa, dan negara,” tutupnya. (ibn)