KMMIT Sarankan Cak Imin Bikin Poros Baru daripada “Ngemis” Jokowi

KMMIT Sarankan Cak Imin Bikin Poros Baru daripada “Ngemis” Jokowi

BERBAGI

Redaksikota – Pemilihan Presiden (Pilpres) semakin dekat dan hangat diperbincangkan. Partai politik mulai gencar melakukan komunikasi politik. Tokoh-tokoh partai mulai berani tampil mencalonkan diri sebagai capres maupun cawapres.

Secara hitung-hitungan politik, praktis, hanya ada dua kekuatan besar yakni poros PDI Perjuangan dengan nama Joko Widodo (Jokowi) dan poros Partai Gerindra dengan tokoh utamanya, Prabowo Subianto.

Kaukus Muda Muslim Indonesia Timur (KMMIT) menilai, munculnya poros ketiga sangat mustahil dan butuh keajaiban.

Karenanya, untuk menciptakan kekuatan yang seimbang untuk menandingi incumbent, butuh figur baru dari poros Partai Gerindra. Duet Jenderal Gatot Nurmayanto dan Muhaimin Iskandar (Cak Imin) menjadi layak diperhitungkan.

Bagaimana agar duet itu dapat terwujud? Partai Gerindra harus rendah hati tidak mencalonkan Ketua Umumnya, Prabowo Subianto. Prabowo dapat memilih nama Jenderal Gatot Nurmantyo.

“Saya kira, Pak Prabowo adalah negarawan. Majukan tokoh lain, misalnya Gatot Nurmantyo. Seperti dulu Megawati yang memilih mencalonkan Pak Jokowi,” kata Abdullah Kelrey dalam siaran persnya hari ini, Selasa (13/3/2018).

Kemudian, poros Gerindra ini harus berhasil mengajak Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), bergabung. Sebagai partai yang pemilih utamana masa Nahdliyin, sebutan bagi pengikut Nahdlatul Ulama (NU), partai ini jadi penentu kemenangan.

PKB harus rendah hati bersedia koalisi dengan Partai Gerindra PAN, PBB, PKS. Jika partai-partai berbasis pemilih Islam bersatu, akan menjadi kekuatan besar.

“Daripada Cak Imin ngerayu, ngemis-ngemis ke Jokowi dan buktinya sekarang dicuekin. Lebih baik pada 2019 nanti lepas dari koalisi dan bergabung ke poros lain,” sarannya.

Jika demikian, duet Gatot-Cak Imin sangat mungkin dapat terwujud. “Apalagi Gatot diterima di semua kalangan, dan sangat diterima di kalangan pemilih Islam PKS maupun PAN. Yang kurang adalah pemilih kultural nahdliyin, ini ada di PKB,” pungkasnya.