Beranda Nasional Pengamat Nilai Munculnya Politisasi Agama Dipengaruhi 2 Faktor Ini

Pengamat Nilai Munculnya Politisasi Agama Dipengaruhi 2 Faktor Ini

Redaksikota – Pengamat politik dari Universitas Paramadina, Zainul Maarif mengatakan bahwa politisiasi agama dipicu oleh dua faktor. Diantaranya adalah adanya Ulama su’ dan politikus busuk. Dan keduanya melakukan kolaborasi dalam kontestasi pemilihan umum.

“Ada 2 fenomena yang perlu diperhatikan. Saya bacanya sebagai kolaborasi antara agamawan garis keras yang kekanak-kanakan secara negarif yang kolaborasi dengan politisi yang punya hasrat menggebu-gebu untuk menjadi penguasa secara negatif,” kata Zainul dalam sebuah diskusi di Jakarta Selatan, Selasa (13/2/2018).

Ia pun menjabarkan dua faktor tersebut, yakni ulama atau agamawan yang merasa paling benar dan memaksakan orang lain harus sama dengan dirinya. Bukan hanya soal keyakinan saja bahkan biasanya sudah masuk ke ranah aqidah.

“‎Klaim paling benar adalah kekanak-kanakan. Kalau kita dewasa maka kita sadar masing-masing orang pasti punya klaim kebenaran. Setiap pemeluk agama (pasti) memiliki keyakinan agamanya adalah yang paling benar. Bukan cuman Islam saja, kristen, budha, hindu, yahudi juga sama,” tuturnya.

Selanjutnya ketika klaim merasa paling benar sendiri semakin dikokohkan, Zainul menilai dampak lanjutannya adalah munculnya aliran garis keras dan arogansi dalam beragama. Dan menurutnya, kondisi beragama yang dijalankan dengan arogansi semacam itu akan sangat berbahaya bagi tatanan sosial di masyarakat majemuk seperti Indonesia.

“Kalau kekanak-kanakan dan klaim merasa paling benar muncul, maka arogansi akan muncul, egoisme yang arogan itu bahaya bagi kehidupan bersama,” terangnya.

Kemudian terkait dengan politisi busuk. Dosen Falsafah dan Agama ini menyampaikan bahwa mereka adalah para politisi yang hanya mengejar kekuasaan dengan melakukan berbagai hal, sekalipun cara yang mereka tempuh harus menabrak seluruh tatanan yang ada asalkan kemenangan mereka bisa raih.

“‎Yang kedua adalah politisi yang cenderungan hanya mencari kekuasaan. Di Pilkada DKI juga terlihat banyak politisi yang menghalalkan segala cara untuk mencari kekuasaan dan politik pragmatis. Berbeda dengan era kemerdekaan lalu, contoh Bung Hatta yang berpolitik bukan untuk mencari kekuasaan tapi mencari kemaslahatan bagi banyak kalangan,” kata Zainul.

Dan ketika dua faktor tersebut dikawinkan dalam ranah persaingan dalam kontestasi politik, Zainul pun mengatakan pola politisasi agama yang muncul akan mendegradasi kehidupan berbangsa dan bernegara, bahkan bisa merusak nilai dari demokrasi itu sendiri.

“‎Politisasi agama dan menghalalkan segala cara utk mencari kekuasaan. Jika dua hal ini disebarkan di berbagai daerah, maka ini sangat berbahaya sekali bagi Indonesia,” tuturnya.

Lebih lanjut, pria yang mengaku lulusan Al Azhar, Kairo, Mesir tersebut mengatakan, Pilkada DKI Jakarta 2017 lalu adalah contoh real dimana politisasi agama terjadi, dengan menggunakan narasi agama yang merupakan ranah privat namun dipaksakan untuk bergulat di ranah publik, membuat gesekan antar masyarakat pun tak terelakkan.

Padahal menurutnya, ajang demokrasi seperti Pemilihan Umum semacam itu bisa diisi dengan adu kualitas dan gagasan, bukan semata-mata adu agama dan identitas.

“Berpolitik itu harus sehat. Dan jika ingin berpolitik damai maka harus berangkatnya itu baik dan tunjukkan ini baik,” ujarnya.

Ia pun mencontohkan kampanye politik dengan kompetisi iklan produk. Dimana dalam iklan yang muncul di tayangan televisi maupun media lain, mereka lebih mengutamakan menyampaikan kualitas produk masing-masing, bukan malah kenjatuhkan lawan produknya. Pola seperti itu menurut Zainul adalah pola kompetisi yang sangat sehat.

“Belajarlah dari iklan dan parpol itu harus belajar dari iklan, gak mungkin iklan produk itu menjelekkan produk lain, dia akan unggulkan produk mereka sendiri,” terangnya.

Terakhir Zainul menuturkan kepada seluruh generasi muslim Indonesia, pun jika memilih berdasarkan konteks agama dan keyakinannya, sebaiknya bisa melakukannya dengan pendekatan agama yang lebih substansial.

“Jika agama kita merasa paling benar maka seharusnya sikap kita adalah untuk menghadirkan kebenaran yang membawa kebahagiaan dan kedamaian. Bagaimana politik itu merangkul kebaikan bersama,” tegasnya. (ibn)