BERBAGI
Bambang Soesatyo
Ketua DPR RI, Bambang Soesatyo. [istimewa]

Redaksikota – Ketua DPR RI Bambang Soesatyo menilai saat ini insan pers sedang dihadapkan dengan maraknya penyebaran berita hoax di media massa seperti internet. Menurutnya, penyebaran berita yang tak bertanggungjawab tersebut jelas akan menjadi tantangan yakni memberikan informasi yang akurat kepada masyarakat untuk menepis kabar-kabar bohong itu.

“Ketika publik resah dan bertanya mengapa hoax bisa memadati jagad pemberitaan masa kini, keresahan dan pertanyaan itu sebenarnya dialamatkan juga kepada insan pers,” kata Bambang Soesatyo dalam siaran persnya, Minggu (11/2/2018).

Kemudian pria yang karib disapa Bamsoet tersebut pun memberikan kritikan agar para insan pers untuk semakin kuat dan sigap menyikapi penyebaran berita hoax itu.

“Hoax marak karena insan pers masa kini belum cukup sigap merespons setiap isu atau peristiwa di ruang publik. Ketidaksigapan wartawan akhirnya dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab menyebarkan hoax dari setiap peristiwa,” nilainya.

Bahkan Bamsoet pun menyampaikan sudah saatnya seluruh insan pers bersatu padu untuk melawan maraknya pemberitaan hoax di jagat dunia maya, sebagai bagian dari upaya melawan penyesatan masyarakat terhadap informasi dan narasi pemberitaan yang sangat tidak konstruktif dan kredibel.

“Fenomena maraknya hoax pada era sekarang harus ditanggapi oleh komunitas wartawan sebagai tantangan. Dengan meningkatkan kesigapan atau sensitivitas terhadap isu-isu yang beredar di ruang publik, peran wartawan pada dasarnya bisa mereduksi hoax,” tuturnya.

Selain itu, Politisi Partai Golkar ini pun mengatakan bahwa komunitas wartawan tentunya harus juga beradaptasi dengan tantangan zaman yang dihadapi bangsa dan masyarakatnya. Apalagi baginya, saat ini Negara Indonesia sedang dihadapkan dengan tantangan yang tidak mudah, karena dengan penyebaran hoax inilah, konstruksi tatanan masyarakat bisa terganggu. Apalagi jika ditambah lagi dengan penggorengan isu sensitif seperti Suku, Agama, Ras dan Antargolongan (SARA).

“Negara, dewasa ini, menghadapi persoalan yang cukup pelik. Salah satunya adalah terkotak-kotaknya masyarakat akibat perbedaan pilihan politik dan beda keyakinan. Akibatnya, menuju agenda pemilihan kepala daerah (Pilkada) serentak pada Juni 2018 ini, muncul lagi kekhawatiran bersama tentang kemungkinan digunakannya isu bernuansa SARA untuk mendiskreditkan lawan politik,” ujarnya.

Bagi Bamsoet, ttulah beberapa tantangan yang sedang dihadapi bangsa ini secara rill, selain tantangan di bidang ekonomi dan tantangan ekstenal. Komunitas wartawan Indonesia tidak boleh gagal paham terhadap tantangan yang sedang berkembang saat ini.

Maka dari itu di peringatan Hari Pers Nasional (HPN) di tahun 2018 kali ini, Bamsoet berharap besar agar seluruh insan pers dapat membuat sebuah formula yang baik untuk melawan penyebaran berita hoax tersebut.

“Dengan memahami tantangan bangsa, wartawan akan bisa merumuskan perannya dan kontribusinya sebagai salah satu pilar demokrasi,” tutupnya. (ibn/ike)