oleh

IPI Nilai Dispensasi Itu Istilah Halus Gaya ‘Main Dua Kaki’ ala Demokrat

-Nasional-345 views

Redaksikota.com – Partai Demokrat telah sepakat mengusung pasangan Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno dalam Pilpres 2019 kali ini. Namun belakangan, partai yang kini dipimpin oleh mantan Presiden Indonesia ke 6 itu dianggap ‘main dua kaki’. Pasalnya, itu terlihat pada sikap partai yang tidak menindak tegas sejumlah kadernya yang membelot dan mendukung petahana Joko Widodo-Ma’ruf Amin.

Beberapa nama yang mencoba bersikap untuk mendukung pasangan petahana diantaranya adalah, Gubernur Jawa Timur Soekarwo, Gubernur Papua Lukas Enembe, mantan Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar dan yang terbaru Gubernur Banten Wahidin Halim.

Menanggapi itu, Direktur Eksekutif Indonesia Public Institute (IPI) Karyono Wibowo menilai, sikap berbeda pilihan yang ditunjukkan sejumlah kader Demokrat menunjukkan ada dinamika politik yang berseberangan terkait dengan pilihan Capres. Meskipun dikemas dengan bahasa dispensasi atau alasan mengamankan suara partai demi pemilu legislatif.

“Menurut saya dispensasi itu istilah halus ‘Main Dua Kaki,” kata Karyono Wibowo dalam keterangannya yang diterima wartawan, Kamis (13/9/2018).

Karyono juga mengatakan, fenomena politik semacam ini sudah menjadi tabiat para politisi di setiap kontestasi pemilihan presiden maupun kepala daerah. Hal itu tidak hanya terjadi di partai besutan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

“Sejatinya tidak hanya kader dan pengurus, tapi juga di tingkat pemilih Partai Demokrat. Tentunya di akar rumput yang menjadi basis pemilih partai Demokrat juga terjadi perbedaan pilihan capres,” terangnya.

Kendati demikian, Karyono menilai fenomena adanya main dua kaki bukan untuk mengamankan Agus Harimurti Yudhono (AHY) di kabinet Jokowi-Ma’ruf jika terpilih Pilpres 2019. Namun beberapa kader Demokrat yang justru memanfaatkan situasi.

“Mungkin kalaupun ada yang masuk kabinet justru bukan AHY, tapi kader Demokrat seperti TGB dan Sukarwo,” tutup Karyono.

Komentar

Jangan Lewatkan