oleh

Banyak “Pemerkosaan” Label Ulama, P3D Yakin Kiyai Maruf Amin Bisa Atasi

-Nasional-181 views

JAKARTA, Redaksikota.com – Direktur Perhimpunan Pendidikan Pancasila dan Demokrasi (P3D), Syaiful Arif mengatakan bahwa legitimasi ulama dalam menggosok kepentingan politik praktis tertentu sudah sangat mengkhawatirkan, apalagi kondisi itu dibarengi dengan maraknya politisasi agama dan membuat masyarakat Indonesia terpecah-belah.

“Jadi ini untuk menanggapi fenomena dijadikannya kiyai Maruf Amien sebagai cawapres dan penggunaan ijtima ulama di kubu sebelah (Prabowo-Sandi),” kata Arif dalam keterangannya usai seminar nasional bertemakan “Posisi dan Peran Ulama di Pilpres 2019: Antara Kepentingan atau Kekuasaan” di D Hotel, Setia Budi, Jakarta Selatan, Kamis (11/10/2018).

Menurutnya, ia sangat mendukung adanya legitimasi istilah Ulama dalam konteks pertarungan politik, hanya saja ketika istilah tersebut dipaksakan sedemikian rupa sampai orang yang sebetulnya dalam pemahaman makna oleh masyarakat Indonesia sebagai ulama diberikan label ulama, maka kondisi ini menjadi persoalan dan politik identitas semakin menguat.

“Jadi kita mendukung pelibatan ulama itu di dalam konteks pilpres ini, tapi memang dua tahun terakhir penggunaan politik identitas ini sangat menguat, nanti ke depan memang dibutuhkan otoritas keulamaan yang mampu meredam politik identitas,” ujarnya.

Kemudian, Arif juga menilai bahwa salah kaprah pemahaman ulama dan fenomena politik identitas atau politisasi agama di kalangan masyarakat Indonesia sudah terlalu parah. Ia harap rakyat bisa keluar dari persoalan tersebut dan iklim demokrasi di Indonesia bisa kembali membaik.

“Ya memang harusnya tidak boleh seperti ini, agama dan ulama tidak diseret-seret ke dalam kepentingan politik. Tapi persoalannya kan nasi sudah menjadi bubur. Islam atau agama, ulama atau kiyai atau habib diseret-seret ke politik praktis. Jadi sekarang yang harus kita lakukan adalah memberikan obatnya,” tutur Arif.

Dan formula yang baik untuk meredamkan legitimasi ulama secara instan dan maraknya politisasi agama menurut Arif hanya bisa dilakukan oleh ulama itu sendiri.

“Obat dari ulama ya ulama itu sendiri, tentu ulama yang bener-benar ulama, bukan ulama yang diciptakan oleh sebuah momen politik,” tegasnya.

Lebih lanjut, secara politis, pihaknya menilai bahwa Kiyai Maruf Amien sebagai cawapres di Pilpres 2019 harus mampu menjaga marwahnya sebagai ulama. Bahkan jika dilihat dari backgroundnya sebagai tokoh di kalangan Nahdlatul Ulama sebagai Rais Aam PBNU dan sekaligus ketua umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), Arif memandang Kiyai Maruf mampu menjaga itu semua.

“Kiyai Maruf Amin ini kan bisa berada di dua sisi, di kalangan moderat dan konserfatif, oke. Di MUI kan ada banyak aliran beragam sehingga posisi kiyai Maruf dua kakinya bisa berada di dua wilayah,” paparnya.

Arief menuturkan keberadan Kiyai Maruf Amin yang kini mendampingi Joko Widodo dalam bursa pertarungan politik lima tahunan tersebut dapat menjaga stabilitas politik yang sudah terlanjur memanas ini.

“Diharapkan ke depan ketika beliau terpilih wapres, beliau bisa menjaga stabilitas politik yang selama ini dikacaukan oleh penggunaan ulama sebagai gerakan politik,” tutupnya.

(ibn)

Komentar

Jangan Lewatkan