oleh

Mahasiswa Demo Polsek Ciputat Gara-gara Tahan 4 Warga

CIPUTAT, Redaksikota.com – Sejumlah elemen mahasiswa dan warga Pisangan, Ciputat, Tangerang Selatan, menggelar aksi unjuk rasa di depan Markas Polsek Ciputat. Hal ini dilakukan lantaran anggota Polsek Ciputat melakukan penahanan terhadap empat warga Pisangan.

Salah satu warga Pisangan, Muhamad Yogi Setiawan mendesak agar Polsek Ciputat segera melepaskan empat warganya yang ditahan sejak kemarin gara-gara dituduh sebagai perusak pagar di tanah sengketa UIN Syarif Hidayatullah.

“Kami meminta empat teman kami dibebaskan,” kata Yogi di tengah-tengah aksi unjuk rasanya, Rabu (23/5/2018).

Menurut Yogi, kasus penangkapan dan penahanan warga Pisangan tersebut merupakan bentuk intimidatif yang dilakukan aparat keamanan dan penegak hukum

“Ini intimidasi dari TNI dan Polri dari Polsek Ciputat, karena kemarin empat teman kami itu sedang bersih-bersih lalu didatangi aparat TNI dan dibawa ke Polsek Ciputat, kemudian diamankan di Polsek Ciputat hingga sekarang,” ujar Yogi.

Pihaknya berharap, Polsek Ciputat untuk menjaga indepedensinya, dan berpihak adil terhadap masyarakat.

“Teman kami adalah pekerja yang ditugaskan RT/RW untuk membersihkan, kemudian dari UIN menggunakan aparat TNI untuk mengamankan 4 masyarakat warga. Kami minta Polsek Ciputat untuk menjaga independensinya,” pungkasnya.

Respon Polsek Ciputat

Kapolsek Metro Ciputat, Kompol Donni Bagus Wibisono menanggapi santai unjuk rasa yang dilakukan puluhan warga Pisangan, Ciputat, Tangerang Selatan, bersama sejumlah mahasiswa dari berbagai lembaga dan organisasi.

Unjuk rasa di depan pagar Mapolsek Ciputat, Jalan Juanda, Ciputat, Tangerang Selatan, pada sekira pukul 16.00 – 17. 30 WIB, Rabu (23/5/2018).
Mereka menolak penahanan yang dilakukan Polsek Ciputat terhadap empat warga Pisangan yang dianggap lakukan pengerusakan terhadap pagar lahan asset milik UIN Jakarta.

“Ini persoalan hukum karena ada pihak yang melapor terkait perusakan dan berdasarkan hasil penyelidikan empat orang itu pelaku perusakan sebagaimana laporan yang kami terima,” ujar Kompol Donni, di depan gedung akademik UIN Jakarta.

Menurut warga, lahan tersebut masih dalam proses pengadilan tahap peninjauan kembali (PK), sehingga tidak dapat dipagari.

“Terkait proses sengketa yang masih berjalan di pengadilan. Sedang dalam posisi PK (Peninjauan Kembali). Kita memiliki putusan tahun 77 yang menyatakan (lahan rumah dinas) milik kita,” ujar M Yogi Setiawan, koordinator unjuk rasa.

Sedangkan Kasubag Umum UIN Jakarta, Encep Dimyati, mengatakan penjagaan lahan sudah bisa dilakukan karena ada putusan kasasi yang memenangkan mereka pada tahun 2012.

“Ini putusan terbaru tahun 2012,” ujar Encep.

Unjuk rasa juga menuntut pencopotan Kapolsek Kompol Donni karena melakukan penahanan keempat warga tersebut, dan meminta penangguhan penahanan.

Lagi-lagi Kompol Donni menanggapi santai tuntutan warga dan menganggapnya permintaan pencopotan sebagai hal yang biasa di kepolisian.

“Itu hal yang biasa dalam tubuh Polri (pergantian jabatan) Kalau penangguhan itukan hak, ya tadi datang dan mengajukan permohonan penangguhan, silakan saja,” ujarnya.

“Biasa saja, jabatan enggak dibawa mati,” lanjutnya sambil tertawa.

Selain itu, warga menyoroti penganiayaan dilakukan kepada keempat tahanan berupa luka bakar di bagian tangan yang diduga dilakukan oknum kepolisian.

“Tidak ada penganiayaan,” kata Kompol Donni. (rel)

Komentar

Jangan Lewatkan