Jokowi Berunding dengan “Maling” (IMF)

Jokowi Berunding dengan “Maling” (IMF)

Oleh : Satyo Purwanto // Sekretaris Jenderal ProDEM

BERBAGI
Satyo Purwanto

Washington Concensus yang menjadi semacam kredo yang “memberikan roh” bagi semua penggiat neoliberal. Washington Concensus lahir dari konsensus tidak resmi antar pejabat keuangan dalam lingkaran institusi internasional dan pengusaha tentang pembangunan ekonomi yang mensyaratkan adanya pasar semu, neoliberalisasi perdagangan, dan tentu pengurangan peran negara dalam ekonomi dan pelayanan kepada rakyat.

Kegagalan IMF dalam membantu negara-negara yang terkena krisis sebenarnya sudah dapat dianalisis oleh salah seorang ekonom Barat, Paul Krugman sejak tahun 1994. Krugman sudah memperingatkan bahwa ada dua keterbatasan IMF untuk dimintai pertolongan, yaitu keterbatasan modal dana dan keterbatasan modal politik. Sedangkan keterbatasan politik juga dapat dilihat dari tingkah IMF untuk menekan Indonesia dengan LOI (letters of Intent) yang merupakan salah satu produk politik IMF dalam menekan Indonesia hal ini karena IMF jauh lebih mengutamakan kepentingan negara kreditor, daripada “kesehatan” negara-negara yang sedang diobati/mengalami krisis.

Pengetatan anggaran atau austerity yang dilakukan antek neoliberal SMI, merupakan resep IMF dan yang sudah terbukti gagal di beberapa negara Eropa, ketika krisis ekonomi baru-baru ini, Di negera-negera Eropa yang sedang terlanda krisis austerity yang dipaksakan oleh Troika (Bank Dunia, IMF, dan Uni Eropa), SMI dan Darmin Nasution pun menerapkan hal yang sama dan juga memposisikan Indonesia dalam perangkap utang dalam jumlah lebih besar dalam 3 tahun terakhir yang berakibat malah semakin memperburuk perekonomian dalam negeri Indonesia.

Kedatangan IMF kini jelas adalah untuk mensukseskan agenda sidang tahunan IMF pada Oktober 2018 mendatang dan memastikan Indonesia masih dalam cengkraman neoliberalisme, anggaran yang disediakan pemerintah pun fantastis sekira 800 milliar lebih, sungguh tragis ketika masih besarnya ketimpangan orang miskin dan orang kaya yang semakin melebar dan tidak ada keadilan ekonomi bagi sebagian besar rakyat Indonesia.

Jokowi dan menteri-menteri ekonominya jelas sedang mempermainkan emosi rakyat Indonesia dan sama saja “sedang berunding dengan maling”, IMF dan lembaga donor international lainnya ibarat maling bagi bangsa Indonesia, memberi tidak seberapa tetapi mengambil lebih banyak aset aset berharga bangsa Indonesia.

Waspadalah!!