oleh

Anak-anak Hasil Didikan ISIS yang Nyaris Menjadi Teroris

-Rilis-952 views

Oleh : Didik Novi Rahmanto

Apa yang akan muncul dipikiran Anda jika menyadari bahwa apa yang anda pelajari dan yakini selama ini ternyata salah? Apa pula yang kiranya akan ada lakukan jika orang tua yang seharusnya menanamkan nilai-nilai kebaikan nan welas asih rupanya justru menjadi sosok yang menjerumuskan Anda dalam kubangan kesalahan?

Inilah yang sekiranya dialami oleh M, remaja tanggung asal Indonesia yang dibawa oleh orang tuanya bersama kelima saudaranya untuk pergi ke Suriah saat ia masih kecil dulu. Perjalanan ke negeri orang ini tidak dimaksudkan untuk liburan atau jalan-jalan, melainkan untuk bergabung dengan kelompok teroris internasional ISIS.

Jika Anda ingat dan sempat melihat video yang mempertontonkan anak-anak usia belia sedang berlatih menggunakan senjata besar dan ramai-ramai membakar paspornya beberapa tahun lalu, M adalah salah satu anak yang ada di dalam video tersebut. M termasuk beruntung, ia masih selamat dan kini telah berada kembali di Indonesia.

Sejak kedatangannya pada 2017 lalu, saya berkesempatan mendengarkan cerita tentang kehidupan dan pengalamannya selama bermukim di sana. Berikut adalah beberapa catatan yang saya buat.

Bukan Jahat, Hanya Ingin Jihad

Dalam sebuah perbincangan saya dengan M, ia mengaku tak pernah sekalipun merasakan pendidikan formal. Yang ia ingat, saat usianya memasuki 6 tahun, orang tuanya mengirim M kecil ke sebuah pesantren di Jawa Barat. Di tempat itulah ia mulai belajar tentang agama Islam, mulai dari Alquran, tauhid, fiqih, hadist, adab hingga akhlak, ia pelajari semua. M mengaku sangat menikmati masa-masa itu. Meski usianya terbilang masih sangat kecil, ia mengaku bisa menyesuaikan diri.

Namun semua berubah ketika keluarga besarnya, mulai dari orang tua hingga neneknya mengajaknya pindah ke Suriah. M tak tahu pasti bagaimana perasaannya saat itu. Ia tahu Suriah bukanlah tempat yang dekat, namun Suriah juga bukan nama yang asing di sepasang kupingnya. Beberapa orang tua beserta teman-temannya, termasuk beberapa ustadnya di pesantren, telah banyak yang berangkat ke Suriah terlebih dulu.

M pun akhirnya setuju dengan rencana kepindahannya bersama keluarga besarnya. Terlebih, ia mengira perjalanan ini untuk tujuan mulia; membela agama.

Hari keberangkatan pun tiba. M mengaku harus transit beberapa kali sebelum sampai ke Suriah. Jika ia tidak salah ingat, setelah terbang dari Jakarta, ia sempat singgah di Singapura, Turki, dan Sandi Urfa sebelum menyebrang dan sampai di Suriah. Selama perjalanan tersebut ia mulai bertemu dengan beberapa orang Indonesia lain yang juga memiliki tujuan yang sama dengan mereka, berjihad bersama ISIS.

Tak ada di pikirannya waktu itu soal melakukan kejahatan, yang ia tahu, ia sedang bersiap untuk jihad, bukan untuk menjadi jahat.

Kehilangan Adik dan Ayah

Setelah sampai di Suriah, M mengaku tak langsung bergabung dengan komplotan ISIS. Ia sempat tinggal berpindah-pindah. Awalnya ia tinggal di hotel untuk sementara waktu, lalu pindah ke penampungan di mana ia bertemu dengan banyak orang yang memiliki tujuan sama; bergabung dengan ISIS. Ia juga sempat tinggal di apartemen sebelum akhirnya ia dan rombongan menetap di Syadadi.

Di tempat inilah, ia dan rombongannya mulai digembleng oleh ISIS. Sementara ayahnya mulai dikirim ke medan perang, M cilik juga mulai diajari cara menggunakan senjata berat seperti AK 47 dan Glock. Tak hanya menggunakan senjata, M juga mengaku diajari ilmu-ilmu agama versi ISIS, di mana mereka diajari pentingnya menghabisi semua orang kafir yang dijumpai. Semua demi menjaga kemuliaan ajaran agama.

Semua proses pembelajaran ini divideokan untuk kemudian disebarkan di dunia maya. Wajah M tampak beberapa kali dalam video-video produksi ISIS yang sempat viral beberapa tahun lalu. Kegiatannya mengikuti latihan menggunakan senjata berat hingga membakar paspor tak luput dari sorotan kamera ISIS. Ia mungkin tak sadar, videonya digunakan sedemikian rupa sebagai alat propaganda di dunia maya.

Ia mungkin tak tahu soal itu, namun ia tahu hal lain yang memancing perpecahan di kelompoknya. Selama tinggal di Syadadi kurang lebih 8 bulan, M mendengar kelompoknya yang mayoritas berasal dari Indonesia tidak senang dengan pengaturan keuangan yang dilakukan oleh pasukan ISIS. Mereka bahkan yakin ISIS tidak transparan soal keuangan. Puncaknya, mereka sepakat untuk angkat kaki dari Syahdadi.

Setelah itu, kehidupan menjadi semakin tidak menentu. Mereka terus berpindah-pindah tempat. Sempat tinggal di Roqoh selama tiga bulan, di Sukhanah selama lima bulan lalu kembali lagi ke Roqoh untuk menetap selama satu tahun. Selama rentang waktu tersebut M kehilangan adiknya yang meninggal karena tenggelam di sungai. Ia juga kehilangan ayahnya yang meninggal karena perang di Tadmur.

Selama menetap di Roqoh ia dimasukkan ke dalam sekolah anak-anak. Selain mempelajari Fiqh, Sirah dan Bahasa Arab, M juga diajari tema-tema berat, seperti; Thogut Anshor Thogut, Pembatal Keislaman dan lain-lain.

Ibunya yang saat itu menjanda lantas menikah lagi dengan orang asal Tunisia. Di saat inilah ia mulai mengikuti ayah barunya pindah ke Mayadin, berpisah dengan rombongan orang-orang asal Indonesia. M pun mengaku tak tahu lagi kabar orang-orang asal Indonesia usai kepindahanya kali ini.

Usia pernikahan ibunya rupanya tak bertahan lama. Keduanya bercerai hanya berselang sebulan setelah pernikahan. Meski begitu, M tetap tinggal bersama ayah barunya tersebut, sementara sang ibu kembali tinggal di penampungan. Tanpa diduga olehnya, ayah tirinya rupanya memberitahu semua kesesatan kelompok ISIS. M pun semakin yakin, ISIS hanyalah komplotan penjahat, bukan pasukan jihad.

M akhirnya mantab untuk mengakui kesalahan. ia menyerahkan diri ke pihak berwenang. Ia pun sempat ditahan di beberapa tempat sebelum akhirnya dikembalikan ke Indonesia.

Berangkat ke Suriah: Bukan Sekedar Pemahaman yang Salah

Mudah untuk mengatakan bahwa hal yang menyebabkan orang-orang seperti M dan keluarganya berangkat ke Suriah adalah soal pemahaman agama yang salah. Sayangnya permasalahan semacam ini tidak pernah sesederhana itu. Apa yang mereka percayai, cara mereka bertindak, hingga keputusan yang mereka ambil untuk ikut berperang di Suriah terbentuk dari sistem nilai untuk komunitasnya sendiri yang menentang sistem nilai mayoritas, hal yang biasa disebut sub kebudayaan.

Menurut Sosiolog Amerika Albert K. Cohen, sub kebudayaan adalah solusi yang diciptakan secara kolektif atas permasalahan yang dimiliki (Blackman, 2014: 499). Masalah yang dimaksud salah satunya disebabkan oleh frustasi akibat status yang dimilikinya. Di satu sisi mereka tidak puas atas kondisi yang mereka hadapi dan tidak mampu mendapatkan hal-hal yang mereka inginkan berdasarkan nilai yang mereka anut, seperti negara Islam.

Di sisi lain, karena pandangannya tersebut mereka menjadi tereksklusi dari masyarakat. Rasa frustasi yang mereka alami juga mungkin disebabkan faktor psikologis lain, yaitu ketidakmampuan mereka membantu saudara mereka di Suriah jika tetap di Indonesia (Pisoiu, 2015: 16).

Paham-paham dan pemaknaan ajaran yang radikal ini pun diturunkan melalui transfer nilai, dari orang tua kepada anak, dari pondok pesantren kepada anggotanya, dan secara khusus dalam sirkulasi komunitas tersebut (Blackman, 2014: 500-501). Hal ini bisa terlihat dari fakta bahwa semenjak memasuki usia sekolah, M tidak dimasukan ke sekolah formal; ia hanya menimba ilmu di pondok pesantren yang merupakan bagian dari komunitasnya.

Menurut peneliti Daniela Pisoiu (2015: 10) dari Universitas Hamburg, pendekataan budaya ini penting karena proses radikalisasi tidak terjadi di ruang hampa, melainkan terikat dengan lingkungan sosial dan budaya tertentu, termasuk kondisi di mana seseorang berinteraksi dengan komunitas dengan cara berpikir yang sama.

Keputusan untuk berangkat ke Suriah dirasa sebagai solusi paling tepat, bukan saja untuk menolak cara pandang mayoritas tentang negara demokrasi, tetapi juga sebagai kerangka acuan alternatif dalam menegakkan nilai yang mereka percaya (Pisoiu, 2015: 12; Cotee, 2011, 738). Pendapat serupa pun disampaikan oleh kriminolog Simon Cotee (2011: 739) yang menyebut bergabungnya kelompok ini ke dalam jaringan IS dimaknai sebagai proses transformasi diri.

Dengan menjadi bagian dari ISIS yang dipercaya membawa panji-panji suci agama, orang-orang ini akan secara otomatis merasa telah menjadi orang yang suci sebab mereka kini berada di barisan ‘pembela Islam’. Kondisi ini tak hanya diyakini telah menaikkan status sosial mereka, tapi juga menyatukan mereka kedalam identitas kolektif yang menganggap diri telah seturut dengan jalan hidup Nabi Muhammad dan pengikutnya di masa lalu.

Antara Keluarga, Nilai dan Trauma yang Harus Dibayar Anak

Menurut data Save the Children pada Februari 2018, setidaknya 357 juta anak di dunia tinggal di daerah yang terdampak dengan konflik, naik 75% jumlahnya dibanding tahun 1990-an. Tak hanya menjadi korban atas serangan fisik, banyak anak-anak yang kemudian direkrut dan dilatih untuk dijadikan bgaian dari angkatan bersenjata. Hal ini pun tak hanya terjadi pada anak-anak dari simpatisan IS tapi juga dari berbagai konflik lain seperti konflik di Kongo.

Transfer nilai yang terjadi dari orang tua ke anak dalam komunitas sub kebudayaan radikal seperti yang dialami oleh M dan banyak anak Indonesia lain ini nyatanya menyedot bayaran yang tak sedikit. Anak-anak bukan hanya terpapar nilai, norma, dan cara berpikir yang tidak bisa diterima masyarakat dan akan mengganggu bahkan mempersulit sosialisasi saat mereka kembali ke masyarakat nantinya, lebih dari itu mereka juga terancam keselamatannya baik secara fisik maupun psikis, belum lagi trauma-trauma yang disebabkan oleh kehilangan anggota keluarga dalam perang. Semua ini semakin menenggalamkan mereka ke dalam jurang yang tak bertepi.

Apa yang dialami oleh M dan anak-anak yang terpapar dengan perang dan konflik lainya, apalagi yang terjadi dalam jangka panjang dan berulang, tak hanya menderita akibat perlukaan dari kontak fisik atau bahkan kehilangan nyawa, seperti yang dialami salah satu adik M, namun juga berpotensi memunculkan masalah kesehatan mental yang beragam, mulai dari PTSD hingga gangguan emosi bagi mereka yang masih bertahan hidup (Slone & Mann, 2016: 961).

Soalan ini tentu bukan hal yang bisa diselesaikan sehari semalam. Apalalagi dengan fakta bahwa orang yang menjerumuskan mereka justru orang terdekat anak (keluarga), menjadikan soalan ini kian rumit untuk dicarikan jalan keluarnya. Terlebih dengan kecenderungan komunitas sub-kebudayaan radikal yang tertutup dari masyarakat umum, menjadikan intervensi informal dari lingkungan luar sulit terjadi.

Hal yang bisa dilakukan adalah berusaha memutus rantai sub-kebudayaan radikal ini sebelum diturunkan kepada anak-anak dengan pengawasan atas komunitas-komunitas yang rentan dan beresiko tinggi. Penanganan pada anak-anak yang telah terpapar paham atau bahkan telah menjadi bagian dari kelompok juga perlu dilakukan secara serius dengan mempertimbangkan faktor kontekstual dari setiap anak.

Lalu apa yang bisa dilakukan oleh kita sebagai bagian masyarakat umum? Salah satunya bisa dimulai dengan menjadi lebih peka dan perhatian terhadap lingkungan sekitar, karena tak semua orang yang berpaham radikal tumbuh dalam komunitas yang sepemikiran, bisa jadi mereka berasal dari sekitar anda yang perlahan mulai menjauh tanpa anda sadari.

Komentar

Jangan Lewatkan