Beranda Kolom Rilis Debat Cawapres: Orientasi Ekonomi yang Menentukan

Debat Cawapres: Orientasi Ekonomi yang Menentukan

Oleh : Angga Hermanda / Sekretaris Lembaga Kajian Damar Leuit

223 views
Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia

Redaksikota – Paska debat minggu (17/03), Alhamdulillah, kita punya Calon Wakil Presiden RI (Cawapres) yang keduanya mumpuni, punya visi, berkarakter dan fokus pada pembenahan ekonomi yang tinggi.

Bagi para pengaku golongan putih–dimana pencoblosan dilakukan pada bagian kertas suara yang berwarna putih diluar kotak calon–mungkin kata diatas tak akan menggetarkan sama sekali.

Tapi coba kita bayangkan, misalnya tentang bagaimana perseturuan saling menjatuhkan di Kings Landing dalam serial Geme of Thrones. Sementara White Walker sudah melewati Castle Rock menuju Winterfell untuk menyerang. Pada saat itu tak ada lagi kata netral dan tak memilih, yang ada yakni persatuan dan melawan.

Sekira demikian yang dihadapi Indonesia dalam tahun krusial, pemilu 2019 ini. Tak memilih memang termasuk pilihan, tapi memilih menjadi pilihan yang paling mungkin dilakukan. Terutama pengarusutamaan global dewasa ini melalui ideologi, infiltrasi sosial-budaya, pasar bebas, perang dagang, embargo sana-sini dll yang kian mengkhawatirkan bagi kita sebagai bangsa dan negara.

Kedua calon memang tak begitu sempurna, tak pula terlalu mencerahkan. Tapi mereka punya harapan, mereka saling menjanjikan. Sebelum kekuatan politik rakyat sesungguhnya berdiri sendiri, fase ini memang ‘mau tak mau’ harus dilalui.

Dalam debat Cawapres kemarin (17/03) walau dikesankan sama, keduanya tentu punya perbedaan. Disinilah nalar itu sangat penting digunakan, nilai secara baik-buruk dan pertimbangan lain untuk menetapkan hati.

Misalnya ada pandangan, orientasi ekonomi yang membuat Kyai Ma’ruf Amin dan Bang Sandi berbeda. Kyai adalah tokoh ekonomi syariah, punya gagasan ekonomi keumatan yang diperas dari ekonomi kerakyatan konstitusi. Kemudian beliau juga punya semangat koperasi, dimana pembangunan ekonomi bersama yang menjadi kunci kemaslahatan.

Sementara Bang Sandi boleh dikatakan corong ekonomi konvensional yang bersandar pada arus kapital. Sehingga tidak heran orientasi dasar ekonomi adalah kewirausahaan, atau usaha masing-masing, individu per individu.

Walau tak tahu bagaimana implementasi kedepan, pandangan itu sah-sah saja dalam proses menentukan pilihan, atau paling tidak cukup menerangkan secara peer to peer orientasi ekonomi calon. Karena itu kekurangan siapapun Wapres kita kelak, harus dibenahi bersama-sama. Pembenahan itu dapat dimulai dengan menentukan pilihan.