Beranda Kolom Rilis Menjaga Indonesia: Menjawab Panggilan Jihad Kelompok Pengerat

Menjaga Indonesia: Menjawab Panggilan Jihad Kelompok Pengerat

WIB
377 views
| Estimasi Baca: 2 minutes

Oleh : Didik Novi Rahmanto

Belum lama ini, ancaman terorisme kembali muncul ke permukaan. Simpatisan kelompok ISIS yang berhasil dipukul mundur di banyak wilayah di dunia mencoba mengumpulkan kembali puing-puing ilusi untuk melanjutkan khayal pendirian negeri khilafah. Sayangnya, melalui informasi yang diunggah di https://twitter.com/TRACterrorism/status/1055918142361341954, kelompok pengacau ini memilih Indonesia sebagai pengganti Irak dan Suriah.

Dalam poster yang memampang wajah Ali Kalora tersebut, kelompok pengasong ide khilafah berusaha merebut perhatian massa dengan panggilan jihad di Poso. Di poster tersebut dicantumkan pula nukilan ayat Alquran surat Al Baqarah: 216 yang terjemahannya berbunyi “Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.

Menariknya, meski lokasi yang dipilih untuk melakukan aksi jahat (bukan Jihad) adalah Poso yang berada di Indonesia, namun bahasa yang digunakan dalam poster ini justru menggunakan bahasa asing; Inggris dan Arab. Artinya, seruan ini tak hanya ditujukan untuk simpatisan teroris ISIS yang ada di Indonesia, tetapi juga kepada orang-orang serupa dari berbagai belahan dunia.

Hal ini tentu perlu diwaspadai, terlebih dengan mulai banyaknya narasi kekerasan yang semakin masif menyebar di media. Negara melalui aparatur terkaitnya perlu segera mengambil langkah cepat dan tepat untuk memadamkan api kebencian ini sebelum menjalar dan menyebabkan kerusakan parah di bumi pertiwi.

Untuk itu, kita perlu memberi dorongan dan dukungan penuh kepada kepolisian, militer dan para pengambil kebijakan untuk bekerja maksimal memastikan keamanan di negeri ini. Selain itu, kita juga bisa terlibat aktif dalam upaya mengalahkan narasi-narasi kebencian ini dengan berbagai cara yang kita bisa. Beberapa di antaranya adalah:
Turut aktif melakukan kampanye damai, hal ini bisa dilakukan baik secara offline (diskusi, obrolan ringan, dst) maupun online dengan fokus pada penyebaran ajaran-ajaran damai yang ada di agama. khusus untuk online, kita perlu lebih aktif membuat dan menyebarkan konten-konten positif. Kita bisa melakukannya melalui akun-akun media sosial yang kita punya, termasuk di grup-grup WA.

Dunia maya perlu kita rebut kembali panggungnya, sebab di platform inilah kelompok radikal kerap menyebarkan ajaran-ajaran kekerasan dan permusuhan tanpa dasar yang jelas.

Kedua, mari awasi penggunaan internet oleh anak-anak atau saudara-saudara kita yang masih belum cukup umur. Saya menemui banyak kasus di mana anak-anak ternyata sangat sering menerima informasi-informasi liar seputar radikalisme dan terorisme. Beberapa grup WA anak-anak usia SD hingga SMP bahkan sudah dipenuhi dengan gambar-gambar kekerasan seperti potong tangan hingga kepala dipenggal.

Ketiga, membuka ruang-ruang pertemuan. Salah satu tantangan terbesar kita kali ini adalah mulai hilangnya ruang-ruang pertemuan fisik. Kita telah terlalu lama terpenda dalam tumpukan apps-apps di internet hingga kita mulai jarang menghabiskan waktu untuk berkumpul bersama keluarga dan tentangga.

Munculnya ujaran-ujaran kebencian di internet salah satunya disebabkan oleh perasaan tidak merasa kenal, sehingga orang akan cenderung lebih mudah untuk menyampaikan kata-kata kasar nan tidak pantas untuk diucapkan. Dengan membuka ruang-ruang pertemuan fisik, perasaan tidak kenal tersebut dapat dihilangkan, sehingga orang akan berpikir ulang untuk mengeluarkan umpatan.

Keempat, kita harus sadar bahwa keberagaman adalah takdir dari Tuhan. Tak ada satupun dari kita yang diciptakan dalam bentuk dan kondisi yang sama, karenanya menghargai perbedaan adalah sebuah fitrah yang penuh berkah. Bangsa inipun berdiri lantaran kita berhasil mengatasi semua perbedaan itu dalam sebuah semangat yang sama, Bhinneka Tunggal Ika. Kita memang berbeda, namun kita satu. Kita memang tidak sama, karenanya kita perlu kerjasama.

Akhirnya, Indonesia adalah kita. Mari jaga milik kita ini dengan sepenuh jiwa dan raga, jangan beri tempat untuk penjahat!