PMII Perisai Sakti NKRI

PMII Perisai Sakti NKRI

Oleh : Muh Zakaria Dimas P / Bidang Kaderisasi PC PMII Sidoarjo

BERBAGI

PMII SIDOARJO – Sejarah merupakan literatur yang hidup dan terus bernafas sepanjang zaman. Dari sejarah kita dapat mengambil pelajaran dan hikmah yang membimbing kita dalam perjalanan hidup. Orang yang tidak mengerti sejarah ibarat orang yang tidak mengenal dirinya sendiri, tidak tahu apa yang akan dilakukan dan tidak tahu tujuannya.

Tanggal 17 April 1960 sejarah telah mencatat sebagai hari torehan tinta emas bagi bangsa Indonesia yang akan terus dikenang dan diabadikan. Hari itu adalah hari dimana ada satu organisasi mulia lahir sebagai nafas baru bangsa Indonesia dalam suatu tujuan untuk menjawab suatu tantangan zaman, yakni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).

Secara histories, PMII telah mengawal perjalanan bangsa. Sejak tahun 60-an, PMII menisbatkan diri mengenalkan gagasan kritis-solutif sembari mentranformasikannya. Keterlibatan PMII dalam mengawal gagasan ini ditandai dengan tumbangnya rezim Orde Lama dan Orde Baru karena kedua rezim tersebut diangap tidak membela kepentingan bersama. Sehingga, PMII kerap kali memposisikan dirinya vis a vis dengan kekuatan negara, keberadaannya senantiasa sebagai pelindung bagi kelompok tertindas.

Periode perjalanan PMII kali ini kerap kali diidentifikasi dengan pendekatan binary opposition. Kelompok mahasiswa kritis ini kerap kali memandang fakta yang terjadi dimasyarakat seperti halnya kemiskinan dan kebodohan adalah akibat keberingasan Negara. Sementara itu, PMII menjadi kekuatan yang senantiasa mengawal masyarakat untuk meneriakkan ke-dholim-an Negara. Oleh karenanya, PMII menjadi salah satu kekuatan yang mendorong keruntuhan dari rezim ke rezim (pressure group).

58 tahun sudah PMII lahir dan hidup di bumi pertiwi ini sebagai kelompok masyarakat yang menjadi eksponen bangsa dalam rangka menjawab segala tuntutan zaman. Organisasi yang memiliki afiliasi ideologi dengan Nahdlatul Ulama (NU) atau bisa disebut “anak ideologis” NU ini diharapkan mampu mengemban amanah dalam rangka menjaga kesatuan dan keutuhan NKRI serta merawat tradisi Islam yang Rahmatan Lil ‘Alamin sebagaimana ajaran Rasulullah SAW.

Dengan tujuan yang amat mulia, PMII telah hadir sebagai kelompok yang terus mengisi dinamika kemerdekaan Indonesia sampai saat ini. Berbagai kiprah telah ditunjukan oleh PMII dalam menjaga amanah tersebut. Berpuluh-puluh tokoh dan pemimpin telah dilahirkan dari rahim organisasi ini sebagai bentuk sumbangsih terhadap bangsa dan agama. Maka menjadi suatu ketidaklayakan jika kita masih mempertanyakan kiprah dan sepak terjang organisasi ini di bumi pertiwi Indonesia.

Beberapa hal yang menjadikan PMII sangat dibutuhkan dalam menjawab suatu problematika zaman diantaranya dikarenakan dalam pusaran arus modernisasi dan global yang hingga kini terus berjalan dan semakin kencang, tentu kita semua berharap bahwa perkembangan teknologi yang semakin pesat ini dapat membawa maslahat untuk umat manusia seluruhnya. Karena tidak bisa kita pungkiri bahwa akhir-akhir ini diantara banyak kasus kejahatan salah satunya akibat dari penyalahgunaan teknologi contohnya, yang menjadikan propaganda wacana publik dan keresahan masyarakat.

Mengapa ini terjadi? Karena dengan kemajuan teknologi yang canggih kehidupan menjadi satu yaitu masyarakat dunia. Dimana semua budaya dan tradisi dari semua negara masuk berbaur-saling berbenturan. maka yang terjadi negara yang kuat akan mendominasi negara kecil lainnya dengan budaya baru yang biasa disebut Westernisasi.

Westernisasi dalah suatu paham yang identik dengan budaya negatif kebaratan. Inilah yang kemudian membuat kita kaum muda Indonesia terutama seakan krisis jati diri bangsa. Hal tersebut terjadi karena kurangnya pemahaman masyarakat Indonesia akan budaya dan tradisi asli Negeri ini. Orang akan lebih merasa bangga dan prestige ketika dia mampu memakai komoditas import dan melakoni budaya western misalnya. Berarti dari sini dapat diambil kesimpulan bahwa krisis jatidiri bangsa ini merupakan “penyakit” yang bersama-sama minimal dari diri kita sendiri harus bisa membentenginya dengan menjadi pribadi yang berkarakter.

Apa yang terjadi pada saat ini tentang persoalan krisis jatidiri bangsa yang berujung pangkal pada kemerosotan moral masyarakat bangsa ini, akan mengancam keberadaan negara jika tidak mulai sekarang dihentikan. Bisa dibayangkan bila saat ini saja tidak banyak orang yang tahu akan budaya asli Nusantara, maka lambat laun karakter asli masyarakat Indonesia yang sopan, santun, ramah, jujur, memayu hayuning bawana, ing ngarso sung tuladha, tut wuri handayani, akan hilang ditelan zaman. Zaman yang baru akan melahirkan masyarakat Indonesia yang serakah, sombong, pembohong, raja tega, acuh, individualistik dan kepalsuan lainnya akan menggantikan saatnya kelak yang akan datang.

Dalam konteks ini, persoalan regenerasi dan kaderisasi adalah suatu hal yang utama. Kita sadar, para negarawan dan politikus negeri ini tidak lahir tanpa penempaan dan pendidikan selama menjadi mahasiswa, terutama melalui organisasi ekstra seperti PMII, HMI, IMM, GMNI, PMKRI dan lain sebagainya. Pada pembahasan ini Gerakan dan solidaritas PMII harus terus menjadi suatu Komitmen dalam mewarnai perjalanan bangsa. Hal ini harus menjadi refleksi untuk warga PMII dan mahasiswa lain untuk saat ini, bahwa betapa besar perjuangan dan pengorbanan pendahulu PMII dalam membangun tatanan rumah bernama Indonesia untuk terus menjadi lebih baik.

PMII akan terus memberi warna signifikan terhadap perjalan bangsa di masa-masa yang akan datang. Baik dalam gerakan ataupun kaderisasi tentang peranan mahasiswa dalam menegakkan kesehjateraan bangsa. Maka slogan familiar PMII dengan diksi “tangan terkepal dan maju kemuka” jangan hanya menjadi slogan formal gerakan, tetapi harus dimaknai dan ditafsirkan pada esensi suatu gerakan nyata. Dengan pemaknaan yang substantif maka lahirlah praktek sosial berupa gerakan mahasiswa pembela bangsa dan penegak agama.

58 tahun bukan usia muda, melainkan usia memasuki kematangan hidup jika diumpamakan manusia. Demikian pula dengan PMII, memasuki usia setengah abad lebih tersebut PMII telah matang dalam hal intelektualitas dan gerakan. Seyogyanya, PMII mampu tampil dengan formasi terbaik dalam mendukung terwujudnya kehidupan yang adil dan sejahtera. Oleh karena itu, dalam rangka menjembatani transisi ruang dan waktu ini, menjadi penting untuk mengevaluasi rekam sejarah PMII dan merumuskan kembali orientasi gerakan PMII demi menjawab tantangan zaman.