Beranda Kolom Opini Aktivis Rumah Gerakan 98 Minta Aparat “Sikat” Para Perusak Kebhinnekaan

Aktivis Rumah Gerakan 98 Minta Aparat “Sikat” Para Perusak Kebhinnekaan

Sulaiman Haikal
Aktivis Rumah Gerakan 98, Sulaiman Haikal. [twitter]

Redaksikota – Aktivis Rumah Gerakan 98, Sulaiman Haikal menegaskan bahwa pihaknya sangat mengutuk keras terhadap berbagai aksi kejahatan dan teror yang merusak kebhinnekaan di Indonesia yang dewasa ini tengah marak terjadi di kalangan masyarakat.

Apalagi beberapa peristiwa yang disebutkan Haikal pun sampai membuat orang lain terluka termasuk tokoh agama, seperti kasus yang menimpa KH Umar Basri yang merupakan Pengasuh Pondok Pesantren Al Hidayat di Cicalengka, Bandung, Jawa Barat.

Dan terakhir aksi brutal orang tak dikenal yang membawa samurai dan melukai beberapa jemaat di Gereja St Lidwina, Sleman, Yogyakarta. Tidak hanya menyerang jemaat, pria tersebut juga sampai melukai pendeta Romo Edmund Prier SJ hingga mengalami luka di kepalanya.

“Kami menguntuk keras atas peristiwa penyerangan terhadap tokoh agama di Jawa Barat dan penyerangan Gereja St Lidwina Sleman Yogyakarta,” tegas Haikal dalam keterangan persnya yang diterima Redaksikota, Minggu (11/2/2018).

Eks aktivis 98 ini pun menilai aksi brutal orang-orang tersebut merupakan bentuk dari tindakan anti nasionalis dan kontra terhadap persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia. Apalagi saat ini juga sudah memasuki tahun politik yang memiliki potensi adanya oknum-oknum tak bertanggungjawab yang mencoba mengganggu keamanan dan stabilitas nasional Indonesia.

“Kita perlu mewaspadai memasuki tahun politik 2018 gerakan anti Kebhinekaan menimbulkan fenomena yang merusak keberagaman dan kebhinekaan Indonesia saat ini,” ujarnya.

Untuk itulah, ia meminta dengan tegas agar Pemerintah Pusat melalui berbagai jajaran terkait untuk memberikan atensi besar terhadap berbagai peristiwa tersebut sehingga dapat diantisipasi dan tidak menimbulkan banyak korban lainnya.

“Pemerintah harus segera mengusut pelaku yang tidak bertanggungjawab dan otak dibalik peristiwa-peristiwa yang tak lazim di saat kita semua menghadapi tahun politik dengan adanya Pilkada serentak 2018 pada 27 Juni nanti dan tahapan pileg serta pilpres 2019 yang juga akan dilaksanakan serentak,” tuntutnya.

Haikal juga memberikan dukungan tersendiri kepada aparat penegak hukum yang saat ini dipimpin oleh Jenderal Polisi Muhammad Tito Karnavian untuk mengusut tuntas kasus-kasus yang terjadi seperti di Bandung dan Jogja tersebut, sampai ditemukan siapa otak di balik berbagai rentetan kasus teror yang tak wajar itu.

“Mendukung Kapolri dan jajarannya untuk mengusut pelaku serta otak dari skenario penyerangan yang dilakukan baik di Jawa Barat maupun di Yogyakarta,” tuturnya.

Terakhir, Haikal pun meminta kepada seluruh elemen masyarakat untuk tetap menjaga persatuan dan kesatuan antar sesama bangsa Indonesia dan tetap tidak mudah terprovokasi oleh pihak manapun yang semakin memperkeruh keadaan.

“Mari kita jaga persatuan dan perbedaan dengan merawat kebangsaan dalam bingkai Pancasila,” tutupnya. (ibn)