PMII
Kegiatan diskusi publik Refleksi Akhir Tahun di PB PMII.
Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia

Redaksikota – Pengurus Koordinator Cabang PMII DKI Jakarta menggelar Diskusi Publik Refleksi Akhir Tahun untuk mengevaluasi persoalan bangsa selama satu tahun terakhir ini. Dalam diskusi tersebut, salah satu narasumber dari pengamat politik Indonesia Public Institus (IPI) Karyono Wibowo memandang ada persoalan fundamental yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini.

“Kita sedang menghadapi tantangan fundamentalisme, yakni fundamentalisme pasar sebagai akibat dari globalisasi yang lahirkan konsep market mecanism, di sisi lain kita menghadapi fundamentalis agama yang memperjuangkan ideologi transnasional, dimana posisi kita sedang dihimpit kekuatan besar itu,” kata Karyono dalam sambutannya di kantor PB PMII, Jakarta Pusat, Rabu (27/12/2017).

Persoalan Fundamentalisme Agama

Dalam persoalan fundamentalis agama misalnya, Karyono memandang saat ini tengah gencar ada sekelompok masyarakat yang ingin mencoba menabrakkan konsensus final bangsa dan negara Indonesia dengan konsensus lain yakni dengan syariat Islam. Hal ini pun terlihat dengan gamblang saat agenda demokrasi di Pilpres 2014 hingga Pilkada DKI Jakarta 2017 lalu dimana isu sentimen agama terus dimainkan bahkan sampai menjadi sebuah komoditas tertentu.

“Indonesia sedang dihadapkan intoleransi dan anti kebhinnekaan. Pilpres 2014 sempat muncil isu-isu SARA dan pilkada 2016 hingga 2017 dan sampai hari ini kita masih dihadapkan masalah itu, padahal kebhinnekaan sudah menjadi sunnatullah,” tegasnya.

Tantangan Fundamentalis Pasar

Kemudian tantangan fundamentalis selanjutnya dikatakan Karyono adalah persoalan pasar. Ia menilai jika saat ini persoalan pasar Indonesia masih dikuasai oleh sistem ekonomi liberal yang nyaris tidak bisa dibendung lagi.

“Tantangan fundamentalis pasar misalnya, coba perhatikan semua arus modal barang dan jasa saat ini sudah tidak lagi bisa dikontrol bebas masuk kemana-mana menembus batas-batas negara, semua produk dalam negeri kita dalam kebutuhan sehari-hari itu produk asing. bagaimana dengan bangsa Indonesia,” ujar Karyono.

Kondisi buruk tersebut dikatakannya lantaran bangsa Indonesia masih terlalu sibuk dengan persoalan fundamental negara yakni memperdebatkan dan mempersoalkan dasar negara yakni Pancasila dibanding memandang persoalan yang lebih besar lagi.

“Bangsa Indonesia saat ini sedang menjadi konsumen yang baik. Ya karena kita sedang terlena dengan tantangan-tantangan yang kita hadapi tadi,” tegasnya.

Setali mata uang dengan Karyono Wibowo, intelektual muda NU Abdul Ghofur mengatakan bahwa ada sebuah zona dimana bangsa Indonesia terjebak dengan persoalan dasar saja. Apalagi munculnya pendakwah-pendakwah baru yang lebih melihat pasar instan saja dan tidak melihat sanad dan sejarahnya.

Kondisi ini pun dikhawatirkan akan menjadi bom waktu bagi bangsa Indonesia di kemudian hari jika tidak disikapi dengan serius.

“Saya ingin beri lebel bahwa Islam sekarang ini Islam yang cepat saji. Jadi Islam ‘cingkrang’ itu gampang meledak-ledak. Karena ini adalah Islam yang anhistori,” kata Abdul Ghofur dalam kesempatan yang sama.

Untuk itulah ia lebih menekankan kepada kader PMII untuk menjalankan syariat dan pendidikan agama sesuai dengan mekanisme dan rule yang benar.

“Menjadi PMII adalah anugerah, Insya Allah kita sudah dijaminkan syafaat Nabi karena kita tidak pernah menentang perawiyan dan shalawat. Ini keuntungan kita jadi warga NU. Namun yang perlu kita pahami sebagai kader NU adalah tantangan NU sangat besar, kita sudah prediksi nasib Indonesia akan seperti apa,” serunya.

Pemuda Harus Perkuat Persatuan

Dalam kesempatan yang sama pula, Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Jakarta Utara, Nur Hasanuddin memandang apapun persoalan dan tantangan ke depan bangsa Indonesia, persatuan dan kesatuan antar sesama bangsa Indonesia harus terus dijaga sampai kapanpun.

“Ini jadi PR besar bagi PMII untuk lakukan kaderisasi yang baik. Kita harus perkuat ukuwwah minimal ukuwwah PMII-an, baru kita bicara ukuwwah Nahdliyyah, baru kemudian kita bicara ukuwwah wathoniyah dan ukuwah basyariah,” kata pria yang karib disapa Bang Acan itu.

Selain itu, ia juga menekankan bahwa era kemudian tantangan yang besar adalah kekuatan mental, dimana masyarakat akan ditakar kekuatan mentalnya sebesar apa. Dan Bang Acan pun mencontohkan pada sosok Rasulullah Muhammad SAW.

“Nabi Muhammad itu ummi, ummi artinya tidak bisa membaca dan tidak bisa menulis. Akan tetapi apa yang membuat Nabi Muhammad hebat karena Nabi Muhammad memiliki mental yang sangat kuat,” tegasnya. (*)